Andi Nawir Pasinringi, Sejak Dulu Dekat dengan Rakyat

Di balik kesederhanaannya, pamor Andi Nawir Pasinringi sebagai pemimpin kharismatik masih begitu memancar. Rekam jejak perjalanan hidup dan kehidupannya sebagai seorang pamong praja tertoreh begitu mendalam di masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Pinrang. Ia kerap tampil ke muka, melayani, menyelami langsung kehidupan masyarakat sejak dipercaya sebagai kepala desa, camat hingga bupati.

Langkah serupa ia lakoni ketika ia duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Nawir –yang pernah menjabat bupati Pinrang selama dua periode ini— tetap menjadi sosok yang sederhana dan bersahaja. Bahkan kendati kini ia maju sebagai calon Wakil Gubernur Sulsel mendampingi Andi Rudiyanto Asapa, Nawir masih tetap mengaku sebagai orang biasa dari desa yang acap turun ke sawah bercengkrama dengan para petani.

“Saya ini orang desa. Jadi ya, sehari-harinya biasa ke sawah. Saya juga sering memancing ikan di empang bersama teman,” ujar pria kelahiran Pinrang, 17 Agustus 1949 ini.

Nawir mengaku tak bisa melepaskan dirinya dengan hal-hal yang berbau pertanian. Bahkan ia kerap berupaya merealisasikan apa yang dibutuhkan para petani, saat dia menjabat bupati Pinrang. Pun ketika duduk di DPRD, ia pun getol memperjuangkan nasib para petani dan membantu mereka melalui anggaran. Tak lain tak bukan, yang dilakukannya itu sebagai rasa terima kasih sekaligus wujud pengabdian pada bidang yang sudah membesarkannya dari sekadar seorang anak desa hingga menjadi pejabat berpengaruh di Sulsel.

Ketegasan dan keberaniannya sebagai petarung sejati tak diragukan lagi. Tak heran bila ia pun disegani baik kawan maupun lawan politiknya. Bahkan ia rela meninggalkan kursi empuknya di gedung parlemen Sulsel. Termasuk partai politik yang ia besarkan dengan susah payah sebelumnya, ketika koleganya Andi Rudiyanto Asapa meminta untuk mendampinginya dalam pemilukada Sulsel 2013. Baginya, untuk menjadi orang besar di Sulsel tidak perlu mengendarai partai besar.

“Saya menerima pinangan Rudiyanto karena panggilan hati. Boleh saja orang mengatakan saya tidak ada apa-apanya, tapi nanti saja kita lihat. Saya maju sebagai calon wakil gubernur karena saya siap menang,” kata pasangan cagub nomor urut 3 ini.

Kebiasaan lamanya bercengkrama dengan masyarakat terbawa ketika ia harus mensosialisasikan diri dan program Garuda-Na dalam ajang pemilukada Sulsel yang bakal digelar 22 Januari mendatang. Nawir melakukan sosialisasi dari kolong rumah ke kolong rumah berikutnya. “Tiap hari saya melakukan sosialisasi, saya lakukan ini dengan cara dari kolong ke kolong, begitu pula yang dilakukan pasang saya, Andi Rudiyanto Asapa yang punya kebiasaan sama,” ungkap lulusan Institut Ilmu Pemerintahan, Jakarta angkatan 1982 ini.

Baginya, cara sederhana ini tepat sasaran dalam menyerap aspirasi dari masyarakat, meski tak memperlihatkan gegap gempita, atau meriahnya seremonial yang berbiaya besar. Dalam kesempatan itulah Nawir meyakinkan masyarakat bahwa Garuda-Na tidak memberi janji yang muluk-muluk. “Kami hanya menginginkan layanan publik baik kesehatan dan pendikan gratis itu bisa nyata, dan mencapai 100 persen,” terang Nawir saat memaparkan kehadiran Garuda-Na yang menawarkan perubahan untuk Sulsel yang lebih baik lewat konsep program Sulsel Tampan (Terdepan, Mandiri dan Mapan).

Nawir sendiri mengawali karir sebagai Kepala Desa Paria pada tahun 1976, kemudian ditugasi sebagai camat di Kecamatan Cempa dan Watang Sawitto, masing-masing selama 5 tahun. Sebelum menduduki posisi puncak di Kabupaten Pinrang sebagai bupati selama 10 tahun, ia pun sempat menduduki jabatan strategis di tanah kelahirannya.

“Kalau memang menurut masyarakat saat saya memimpin tidak memihak ke rakyat maka jangan mi pilih saya. Tapi kalau ada yang baik, ingat-ingat tong ki’ karyaku,” kata penerima Satya Lencana Wirakarya Pembangunan Pertanian Tingkat Nasional ini dalam logat Makassar.

Selain bergerak terus mendekati masyarakat, Nawir pun mengandalkan kekuatan simpul-simpul keluarga besarnya untuk merebut suara. Diakuinya, ia memiliki sejumlah kerabat dekat berpengaruh yang tersebar di berbagai daerah di Sulsel. “Saya tidak mau takabur, namun saya targetkan menang,” tegasnya.

Nawir meyakinkan keluarga dan masyarakat meski banyak kalangan yang menganggap dirinya adalah masa lalu Pinrang dan malah dinilai sebagai pendatang baru, ia tetap optimis. Master Pertanian lulusan Universitas Hasanuddin, Makassar ini yakin langkah yang diambilnya mendampingi Andi Rudiyanto Asapa bukan isapan jempol belaka. “Rudi adalah seorang pejuang yang pantang mundur. Punya hitungan matang sebelum bertanding. Orangnya konsisten, serta punya prinsip yang kuat,” ujar Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Pinrang ini.

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, edisi Desember 2012

Sumber foto: sayapgarudana

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata, Pilgub Sulsel, Profil, Rekam Media and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s