Rudi: Maaf Pak Gub, Pembangunan Tak Merata

Di bawah ini wawancara redaksi Harian Tribun Timur bersama calon Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Rudiyanto Asapa berkaitan dengan ajang pilgub Sulsel yang akan digelar 22 Januari mendatang. Sengaja kami tidak menulis ulang seluruh isi dari wawancara yang memang sudah diterbitkan harian local yang terbit di kota Makassar itu.

Untuk lebih jelasnya, silahkan baca dan simak apa yang dipaparkan oleh Andi Rudiyanto Asapa. Semoga bermanfaat dan membuka mata dan hati serta pikiran bagi para calon pemilih dalam ajang pemilukada gubernur Sulawesi Selatan 2013.

 Rudi: Maaf Pak Gub, Pembangunan Tak Merata

3garudana10Calon Gubernur Andi Rudiyanto Asapa menerima kehadiran wartawan Tribun Timur, Muhammad Yasdin dan Ridwan Putra usai jumpa pers di Media Centre Garuda-Na, Jl Adhyaksa Baru, Makassar, Kamis (3/1).

Fotografer Tribun, Sanovra Junior, mengabdikan momen wawancara khusus ini. Tribun menyajikan delapan pertanyaan kepada Rudiyanto. Pertanyaan yang sama juga diajukan kepada dua cagub lainnya. Berikut petikannya:

Niat utama maju di pilgub?

Yang pertama bahwa apa yang saya lihat selama tahun, mohon maaf pada Pak Gubernur yang ada sekarang, sebagai Bupati Sinjai bahwa ada ketidakadilan dalam proses pembangunan di Sulsel. Nah, ketidakadilan inilah yang menyebabkan ada kesenjangan antara satu daerah dengan daerah yang lain.

Ini tidak bisa kita biarkan, kalau kita biarkan kita akan selalu tertinggal.  Ini yang menjadi alasan pertama saya karena ketidakadilan itu terkait dengan pemenuhan hak-hak dasar rakyat. Apa hak dasar rakyat itu, seperti misalnya infrastruktur jalannya, jalan provinsi yang tidak karuan.

Saya mohon maaf kepada Pak Gubernur, mungkin beliau sudah berusaha tapi batas kemampuannya seperti itu. Kemudian yang kedua infrastruktur irigasi bagi pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, juga sama dan yang ketiga adalah pendidikan yang selama ini dianggap berhasil tapi menurut saya tidak berhasil juga kesehatan yang dianggap seperti itu.

Seperti janjinya kepada masyarakat tidak mampu dipenuhi. Sehingga ini yang membuat saya merasa tergelitik untuk maju. Ternyata saya juga mendapat perintah dari Ketua Dewan Pembina bahwa saya harus maju pada pilgub Sulsel. Tidak ada pilihan lain kecuali mengabdikan diri untuk Sulsel.

Alasan memilih Andi Nawir Pasinringi sebagai pasangan Anda?

Saya harus terus terang, empat kali saya minta Pak Nawir berpasangan dengan saya. Tiga kali beliau menolak. Alasan yang pertama bahwa, beliau sudah tua, sudah capek, 33 tahun dipemerintahan sudah bosan.

Saya minta kepada beliau berpikir, saya beri beliau waktu. Alasan kedua juga alasan yang sama, alasan ketiga juga beliau datang masih tetap sama dan pada akhirnya, yang keempat dia sudah mengelelingi Sulsel, dia sudah melihat bahwa memang harus ada hal yang harus diperbaiki dan di sisa-sisa-sisa hidupnya, beliau ingin mengabdikan dirinya untuk Sulsel.

Yang keempat baru dianyatakan oke, ndi’, dia panggil adik sama saya, saya bersedia dampingi dan setelah itu saya bawa menghadap ke Pak Prabowo.  Pada saat menghadap ke Pak Prabowo, beliau kan menerima tamu hanya 10 menit saya sudah sampaikan ke Pak Nawir. Daeng, minta maafka karena biasanya kalau ketemu Pak Prabowo, saya antar orang, saya antar tamu, hanya 10 menit.

Ternyata ada sisi lain yang dilihat Pak Prabowo terhadap Pak Andi Nawir bukan 10 menit, kita dijamu makan malam dari jam 8 sampai jam 11 malam. Banyak cerita Pak Prabowo terhadap Andi Nawir, termasuk titipan beliau. Pak Andi Nawir tolong dampingi Bupati Sinjai menjadi Wakil Gubernur dan jaga Pak Bupati.

Pengabdian terhadap rakyat yang paling utama dari semuanya dan ada titipan lain tentunya tapi saya tidak ingin sampaikan di tempat ini karena bisa membuat orang agak…Tahulah orang Sulsel.

andi nawirSejak saat itu saya sepakat untuk pasangan dengan catatan, Pak Andi Nawir menawarkan kepada saya bahwa ndi’, kita pasangan tapi saya mau kita sumpah sama-sama. Apa itu sumpahnya daeng? Eh.. Tolong, kalau kita yang terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Sulsel, pada saat kita berkunjung ke daerah, kita jangan menginap di rumah jabatan bupati.

Oke, kalau memang itu prinsipnya, oke. Jadi kita nginap dimana? Kita nginap di rumah rakyat, saya sependapat. Maka sumpah itu saya pegang bersama-sama Pak Andi Nawir.

Cara mengatur waktu di tengah kesibukan?

Kalau dengan jabatan saya sebagai bupati, saya tidak ragukan lagi karena sistem yang saya bangun dua periode sebagai bupati, saya sudah meletakkan dasar-dasar dan sistem yang harus diterapkan di bawah dan saya sudah sampaikan bahwa persolan yang boleh sampai ke bupati adalah persoalan yang sangat krusial.

Jelas tugasnya aparat yang ada di bawah dan kalau dia tidak bisa melaksanakan tugasnya, lebih baik dia berhenti karena mereka kan digaji, itu yang saya lakukan.

Sistem ini berjalan, sehingga saya tidak meragukan meskipun saya tidak berada di Sinjai. Sehingga untuk mengatur waktu saya di Sinjai tidak terlalu merepotkan saya kecuali ada acara-acara penting seperti pembahasan APBD, upacara-uapacara kenegaraan, dan yang ketiga ada yang urgen dari masyarakat dan harus bertemu dengan saya maka saya akan kembali ke Sinjai.

Ke keluarga tentunya, selama saya jadi pengacara saya sering meninggalkan keluarga saya. Keluarga saya terbiasa dengan itu, bukan terlalu aneh bagi istri saya dan anak-anak saya. Saat saya jadi pengacara terkadang 24 jam saya harus berada di kantor dan luar daerah.
Dengan parpol saya membagi dengan wakil-wakil ketua, ada Ketua OKK yang mengurusi pengkaderan, ada Ketua Bappilu, ada Humas, ada Infokom. Saya percayakan tugasnya kepada mereka sehingga saya lebih gampang mengontrol. Tidak bisa dilaksanakan saya ambil alih.

Cara menjaga kesehatan di tengah padatnya jadwal sosialisasi?

Resep saya cuma satu, saya makannya jam 5 sore. Pagi saya tidak makan, saya cuma minum kopi, tentu air putih satu liter. Sudah 30 tahun saya laksanakan. Kopi, rokok, tidak makan cemilan, selesai. Mandi, kalau toh saya makan di acara saya makan saja sekadarnya tidak mengecewakan yang punya acara.

Meskipun sebenarnya itu tidak menjadi kewajiban yang mendesak untuk saya. Tapi saya makannya jam 5 sore, lebih baik saya makan setelah jam 5 sore daripada sebelum jam 5 sore.

Ini sudah saya lakukan 30 tahun dan tidak ada resep lain selain itu.  Bahwa ada vitamin, istri saya dokter, banyak vitamin yang disiapkan untuk saya tapi tidak ada yang cocok. Kalau saya minum vitamin, saya sakit kepala. Simple sekali, tidak ada merepotkan saya. Makannya saya juga cuma indomie dan telur dadar.

Kebiasaan yang berubah dan dirindukan selama ini?

Yang seperti dikeluhkan teman-teman yang tadi bahwa saya sangat tertutup, saya susah ditemui karena saya sudah diatur oleh tim kampanye saya. Sehingga ini menyusahkan bagi saya. Ada kebiasaan saya, saya ingin bebas juga, jalan keman-mana, tetapi yang bikin repot juga protap yang melekat di saya.

Di mana-mana saya jalan kepolisian ikut juga, bikin sakit kepala juga tapi saya hargai itu karena itu adalah protap dari kepolisian.

Pernah konfirmasi ke rival Anda mengenai kampanye negatif terhadap Garuda-Na?

Alhamdulillah sampai saat ini saya tidak pernah difinah, tidak pernah kena black campaign.  Saya berharap, hingga selesainya pilgub ini saya tidak difitnah dan tidak di-black campaign. Orang memang kesulitan, mau fitnah saya, mau black campaign saya dari mana, dari posisi mana saya bisa difitnah, dari mana saya black campaign.

Saya juga tidak pernah melakukan komplain karena saya tidak pernah difitnah, tidak pernah di black campaign, kecuali kalau terkait pemberitaan, itu saja. Ha…ha…ha…

Selain keluarga, orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?

Yang pertama tentu Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto. Beliau intens sekali mendorong saya melakukan sosialisasi dengan catatan, jangan kumpulkan rakyat di tengah terik matahari, kemudian kalian di bawah tenda. Rakyat kepanasan kemudian anda pakai tenda, rakyat kelaparan kemudian anda pakai tenda jangan lakukan. Kalau mau sosialisasi, sosialisasilah dari rumah ke rumah.

Selain istri saya, anak saya dua-duanya juga mensupport saya. Segenap pengurus DPP Partai Gerindra selalu mendorong saya.

Apa yang akan dilakukan jika kalah di Pilgub Sulsel 2013?

Kalau saya kalah saya kembali ke profesi saya sebagai pengacara. Saya kan cuma cuti sebagai pengacara, lawyer. Saya mengabdikan diri untuk masyarakat Sinjai sejak 2003. Profesi inilah yang membentuk karakter Rudiyanto. Saya dikenal karena profesi ini. Tidak mungkin saya tinggalkan.

Masa jabatan saya sebagai bupati juga masih sampai bulan Juli. Anda juga akan mendapati saya menjadi nara sumber mengkrititisi segala kebijakan. Saya akan lakukan itu, itu adalah karakter saya. (*)

Penulis : Yasdin

Editor : Mansur AM

Sumber: Tribun Timur

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata, Pandangan, Pilgub Sulsel, Profil, Rekam Media and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s