[Jejak 32] Nelayan Sinjai Ditangkap di Timor Leste

Isak tangis terdengar sesaat setelah enam nelayan Sinjai keluar dari halaman Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Penantian keluarga nelayan asal Dusun Burungloe Desa Buhung Pitue Kecamatan Pulau Sembilan yang ditangkap di Timor Leste sejak akhir Desember 2011 itu telah berakhir.

Itulah puncak penantian keluarga setelah dua bulan diliputi kecemasan. Hari itu, Jumat 24 Februari 2012, keenam nelayan tiba di Makassar bersama Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa, setelah sebelumnya transit di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Mereka dinyatakan bebas dari ancaman penjara atas tuduhan memasuki perairan negara bekas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu.

Kabar tertangkapnya nelayan asal Sinjai baru diketahui setelah keluarga melaporkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat. Saat itu mereka mencari ikan menggunakan Kapal Motor (KM) Masagena 04 yang dinahkodai Kaharuddin. Kaharuddin berlayar ditemani lima anak buah kapal (ABK).

Tidak mereka sadari, pelayaran mencari ikan hingga di perbatasan wilayah negara tetangga. Mereka akhirnya ditangkap. Keenam nelayan dituduh memasuki perairan Timor Leste tanpa izin saat menangkap ikan di sekitar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka diduga melakukan pencurian ikan di wilayah Timor Leste. Kaharuddin bersama lima rekannya juga diduga akan melakukan penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar setelah ditemukan satu ton solar di kapal mereka.

Rudiyanto segera menindaklanjuti laporan tersebut. Ia mendatangi kantor Kementrian Kelautan dan Perikanan di Jakarta. Ternyata diperoleh informasi, aparat di kementrian ini menyatakan belum mengetahui adanya penangkapan nelayan Sinjai di Timor Leste. Kementerian Luar Negeri setali tiga uang. sebagaimana di Kementrian Kelautan dan Perikanan, aparat di kementrian ini yang ditemui juga menyatakan belum mengetahui peristiwa itu.

Tak ingin  membiarkan warganya diterpa masalah berkepanjangan, ia berinisiatif segera berangkat ke Timor Leste. Rudiyanto mengajak Hendardi, karibnya saat masih aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk menemani. Hendardi dianggap mengenal aparat pemerintah Timor Leste. Kedekatan diperlukan untuk memudahkan jalan pembicaraan dalam penyelesaian masalah yang dihadapi keenam nelayan itu.

Setelah melakukan pembicaraan dengan sejumlah pejabat pemerintah Timor Leste, akhirnya keenam nelayan dinyatakan dibebaskan. Seperti diberitakan berbagai media massa kala itu, Rudiyanto mengatakan saat ditangkat, di atas kapal mereka tidak ditemukan adanya ikan hasil tangkapan. Yang ada hanya pancing dan es balok. Mereka terbawa arus ketika sedang berada di perairan NTT sehingga memasuki wilayah territorial Timor Leste.

Pembicaraan membuahkan hasil yang melegakan. Tangis bahagia keluarga pun pecah di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar menyambut kedatangan keenam nelayan yang sempat bermasalah di Timor Leste.

Apa hikmah di balik peristiwa itu? Rudiyanto menyatakan perlu ada tindak lanjut dari pemerintah kedua negara dengan melakukan pembicaraan menyangkut pencarian ikan di perbatasan perairan Indonesia-Timor Leste. Pembicaraan diperlukan agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s