[Jejak 31] Penjaga Kuburan Naik Haji

Di tahun-tahun awal menjabat bupati Sinjai, Rudiyanto tidak sebatas berkunjung ke desa-desa. Ia juga selalu menyempatkan berkeliling dari masjid ke masjid. Setiap Jumat ia berpindah dari masjid satu ke masjid lainnya. Langkah itu dilakukan untuk merekam aspirasi masyarakat dalam beribadah. Ini dianggap penting untuk mewujudkan pilar agama, salah satu dari tiga pilar pembangunan yang ia canangkan.

Seperti biasanya di kampung-kampung, imam masjid dan guru mengaji menjalani keseharian atas panggilan nurani. Menjadi imam di setiap waktu sholat dilakukan dengan ketulusan. Sama tulusnya para guru mengaji yang rutin mendidik anak-anak mengenalkan bacaan-bacaan Al-Quran. Tak ada imbalan apalagi penghargaan, kecuali kepuasan batin.

Rudiyanto sejak awal memahami kelasiman itu di kampung-kampung pada umumnya. Ia sadar, imam masjid dan guru mengaji adalah orang-orang yang menjadi ujung tombak dalam pembinaan keagamaan di masyarakat. Mereka berada di barisan depan dalam menanamkan nilai-nilai dan ajaran agama. Rudiyanto berpandangan, dengan mengamalkan ajaran agama dengan benar bisa membuat mental masyarakat menjadi lebih baik.

Kesadaran itulah yang melahirkan keinginan mengangkat para imam masjid dan guru mengaji ke tingkat yang lebih tinggi dari masa-masa sebelumnya. Perhatian itu diberikan agar mereka semakin termotivasi dalam menjalankan keseharian. Tak hanya pengakuan, tapi juga perhatian diberikan dalam bentuk insentif setiap bulan. Ini bukan soal besar kecilnya pemberian, tapi lebih pada pemberian perhatian.

Memasuki tahun kedua masa jabatan Rudiyanto, tercatat lebih dari 600 imam masjid dan sekitar 6 ribu guru mengaji yang diberikan honor bulanan. Dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disisihkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Anggaran Kabupaten Sinjai yang masih terbatas dikelola sedapat mungkin sehingga dapat menutupi kebutuhan itu. Program dinas dan instansi lain yang dianggap tumpang tindih dipangkas.

Perjalanan waktu mempertemukan Rudiyanto dengan seorang penjaga makam. Usia penjaga makam yang sudah menjelang senja tidak membatasi gerak langkahnya. Lelaki itu tetap gesit membersihkan makan dan menggali kuburan tanpa alas kaki. Seperti biasa, Rudiyanto menyapanya. Penjaga makan itu kemudian menceritakan hari-harinya yang lebih banyak dihabiskan di kompleks pemakaman.

Pertemuan itu melahirkan gagasan baru. Penjaga makam itu memberi inspirasi pentingnya member perhatian kepada orang-orang yang tulus dalam pengabdian, orang-orang yang menyediakan hari-harinya di pemakaman. Sebagaimana imam masjid dan guru mengaji, perhatian kemudian juga diberikan kepada para penjaga makam di daerah ini.

Tahun-tahun berikutnya diselenggarakan lomba guru mengaji, penjaga makam dan dai teladan. Mereka yang dinyatakan terbaik pertama diberikan kesempatan berhaji, lainnya umroh dan studi banding mengunjungi tempat-tempat tertentu di Indonesia.

Kegembiraan dan rasa syukur pun tak terkira ketika lelaki penjaga makam itu dinyatakan terbaik dan memperoleh kesempatan berhaji. Bibirnya tetap menyungging senyum menjelang pemberangkatan. Tubuhnya yang hitam lantaran sering dipanggang matahari, tertutup dibalut kain batik. Berjalan di tengah calon jamaah haji lainnya, ia tetap seperti dalam kesehariannya tanpa alas kaki.

Kali itu Rudiyanto tak lagi berkunjung ke desa-desa, tapi menyambangi calon jamaah haji Kabupaten Sinjai. Penjaga makam teladan itu salah seorang diantaranya.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s