[Jejak 30] Susin Jadi Pionir

Pengembangan sapi perah di Kabupaten Sinjai dimulai pada 2001. Saat itu pemerintah pusat mengalokasikan enam ekor sapi perah ke Sulawesi Selatan. Bantuan itu ditempatkan di Kabupaten Sinjai sebagai uji coba. Sapi perah dipelihara oleh Kelompok Batuleppa, Desa Gunung Perak Kecamatan Sinjai Barat.

Uji coba ternyata menjadi menjadi penyemangat bagi petani lain di daerah ini. Pengalaman memelihara enam ekor sapi perah percobaan membuat animo masyarakat semakin tinggi untuk memelihara sapi perah.

Rudiyanto menangkap animo masyarakat itu. Ia mendorong pengembangan sapi perah di kabupaten ini. Tahun 2004, susu yang dihasilkan oleh masyarakat diolah menjadi susu pasteurisasi. Susu hasil olahan itu kemudian diberi merk dagang Susin, Susu Sinjai.

Saat itulah Susin mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas. Pengenalan tak hanya dilakukan melalui ajang pameran, tetapi juga dengan menyelenggarakan lomba minum susu. Penyelenggaraan lomba tak sebatas di wilayah Sinjai, tapi sampai di Makassar dan kota-kota lainnya.

Susin kemudian dikemas dalam bentuk gelas 150 cc dengan dua macam rasa: coklat dan strawberry. Susin sebagai produksi sapi perah akhirnya tidak hanya dikenal di Sulawesi Selatan, tetapi juga banyak provinsi lain di Indonesia.

Tahun 2011, produk susu sapi perah masyarakat Sinjai memperoleh penghargaan dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan Adikarya Pengan Nusantara tahun 2011 itu diterima oleh Ketua Koperasi Susu Sintari, Sinjai Barat.

Susin merupakan produk susu olahan pateurisasi yang pertama di Indonesia Timur. Oleh karena itu, tidak keliru bila disebut Susin sebagai pionir pengembangan sapi perah di Kawasan Indonesia Timur.

Keberhasilan ini mengilhami beberapa daerah, baik di Sulawesi Selatan maupun propinsi lain di kawasan Indonesia Timur untuk melakukan hal yang sama. Banyak pejabat dari daerah lain yang datang ke Sinjai untuk belajar, tak sebatas dalam pengembangan sapi perah, melainkan juga strategi dan manajemen pengembangan sapi perah dan pengolahan susu. Di antaranya Provinsi Kalimantan Timur, Provonsi Sulawesi Utara, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bantaeng, dan Kabupaten Maros.

Pemerintah Kabupaten Sinjai tidak tinggal diam. Sapi perah di daerah ini terus dikembangkan. Dengan pengembangan itu, pemerintah pusat mengharapkan Kabupaten Sinjai tidak hanya menghasilkan susu yang akan diolah menjadi Susin, Es Krim Sanshu, atau krupuk susu, tetapi juga menghasilkan bibit-bibit sapi perah unggul. Dengan demikian, wilayah timur Indonesia tidak perlu ke Pulau Jawa untuk membeli sapi perah. Cukup ke Kabupaten Sinjai.

Selain itu, sejak 2004 Pemerintah Kabupaten Sinjai telah melakukan program PMT-AS (pemberian makanan tambahan pada anak sekolah) khusus susu. Boleh jadi, Sinjai kabupaten pertama di Indonesia yang melakukan program tersebut. Program yang sama telah diikuti oleh propinsi dan kabupaten lainnya di Indonesia.

PMT-AS merupakan program yang dibiayai oleh pemerintah Kabupaten Sinjai melalui Dinas Pendidikan. Sejak program ini diluncurkan, setiap tahun sekitar 2.500 murid SD yang tersebar di 20 sekolah dasar di pelosok kabupaten ini yang menikmati susu.

Program ini bertujuan meningkatkan gizi anak didik dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat Sinjai. Bagaimana pun, susu mengandung gizi dan protein tinggi yang sangat dibutuhkan pertumbuhan anak.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s