[Jejak 29] Sinjai tak lagi Bagai Kota Mati

Tahun-tahun awal Rudiyanto menjabat bupati, Sinjai bagai kota mati di malam hari. Jalan-jalan sepi diselimuti kegelapan malam. Kegelapan tak hanya di sudut-sudut kota tapi hingga di pusat kota.

Penerangan jalan terbatas, masyarakat lebih memilih berdiam di kediaman masing-masing. Aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) tak cukup memasok hingga ke lampu-lampu jalan.

Rudiyanto tak bisa membayangkan bagaimana masyarakat menjalani kehidupan dalam kondisi seperti ini. Aktivitas menjadi terbatas. Lebih dari itu, kegelapan di malam hari, sangat mungkin, akan berbanding lurus dengan rentannya terjadi kriminalitas.

Dia kemudian meminta PLN agar bersedia menambah pasokan listrik untuk menerangi jalan-jalan tetapi perusahaan listrik milik pemerintah ini tidak mampu memenuhinya. Rudiyanto tidak kehilangan akal. Terlintas dalam benaknya menyediakan genset khusus untuk penerangan jalan-jalan di dalam kota.

Apakah mungkin itu bisa diwujudkan di saat penghasilan asli daerah (PAD) masih minim? Pertanyaan itu juga yang sempat terlintas di benaknya. Tapi ia yakin, selalu ada jalan keluar meski di lorong yang sempit. Dia kemudian meminta staf Pemerintah Daerah mengalkulasi, menghitung kemampuan keuangan.

Setelah dihitung dengan cermat, ternyata menyediakan genset sendiri bisa lebih irit dalam jangka panjang. Biaya beban untuk mengoperasikan mesin listrik bisa lebih hemat dibandingkan dengan biaya listrik dari PLN. Yakin dengan kalkulasi itu, dia akhirnya memutuskan membeli mesin genset.

Sejak itu aliran listrik untuk penerangan jalan umum dipasok dari genset milik pemerintah daerah. Malam hari di Kota Sinjai tak lagi seperti kota mati. Lampu-lampu jalan menyinari kota itu dari senja berlalu hingga fajar menjelang.

Persoalan di dalam kota selesai, giliran masyarakat di desa-desa diberi perhatian. Infrastruktur menjadi program prioritas. Jalanjalan yang ada dibenahi, jalan baru dibuat yang menghubungkan antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya.

Tidak seperti sebelumnya, jalan baru ini memungkinkan masyarakat dari satu kecamatan tak perlu lagi masuk ke Kota Sinjai untuk sampai ke kecamatan yang lain. Jalan baru antar kecamatan memperpendek jarak itu. Mobilitas penduduk menjadi lancar.

Hingga menjelang akhir masa jabatan Rudiyanto, sulit ditemukan jalan rusak di kabupaten ini. Kalau pun ada jalan rusak, itu buka jalan kabupaten, tapi jalan provinsi. Jalan provinsi menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi.

Kini roda perekonomian desa bergerak. Malam hari di Kota Sinjai benderang oleh cahaya lampu jalan. Kota ini tidak lagi seperti kota mati di malam hari.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s