[Jejak 28] Sopir Pengganti di Jalan Berkelok

Seorang petugas Satuan Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sinjai yang berdinas di rumah jabatan berdiri dari duduknya. Berlari-lari kecil ia menghampir sebuah mobil yang berjalan lambat tak jauh dari tempatnya semula.

Kendaraan berhenti, ia bergegas membuka pintu belakang mobil. Seorang pria turun dari kendaraan. Petugas itu tersentak. Ia kaget melihat sosok yang dilihatnya turun dari kendaraan.

“Pak bupati mana?” tanyanya, heran.

“Itu yang nyopir,” jawab Andi Ardhi, pria yang turun dari kendaraan tersebut. Ardhi biasanya mengendarai mobil saat Rudiyanto melakukan perjalanan.

Seakan merasa bersalah, petugas itu kembali bergegas ke pintu mobil yang lain. Ia berjalan melintasi bagian depan kendaraan yang berhenti. Matanya tertuju ke arah kemudi.

Dari balik kaca kendaraan ia melihat Rudiyanto tengah bersiapsiap keluar dari mobil. Dengan cepat petugas itu membuka pintu mobil. Ia berusaha lebih dulu membuka pintu, sebelum Rudiyanto turun dari kendaraan.

“Tabe, Puang. Saya tidak sangka kita yang nyetir,” ucapnya kemudian, seakan menahan tawa.

Saat itu, Rudiyanto baru tiba dari Makassar. Perjalanan Makassar-Sinjai menghabiskan waktu lima hingga enam jam. Di tengah perjalanan, ia melihat Ardhi tampak mengantuk. Ia kemudian mengambil alih kemudi, mengendarai mobil dalam sisa perjalanan.

Menjadi sopir pengganti bukan sekali ini ia lakukan, terutama dalam perjalanan jauh. Berkendaraan dari Sinjai ke Makassar atau sebaliknya sudah menjadi bagian dari menjalankan tugas-tugas pemerintahan. Maklum, sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, kantor gubernur berada Makassar. Kota ini juga menjadi tempat persinggahan jika ingin meneruskan perjalanan ke keluar kota dengan pesawat udara.

Ada tiga jalur jalan yang menghubungkan dua kota ini. Selain melalui Gowa-Bulukumba, bisa juga lewat Gowa-Malino atau Maros-Camba. Jalur terakhir mesti melintasi jalan berkelokkelok. Pilihan jalur jalan disesuaikan dengan jadwal dan kegiatan yang perlu disinggahi di wilayah Kabupaten Sinjai sebelum meneruskan perjalanan.

Sudah menjadi kebiasaan Rudiyanto melakukan perjalanan yang hanya ditemani sopir dan seorang ajudan. Bisa dihitung dengan bilangan jari ia bepergian secara berombongan, diikuti dua atau tiga mobil. Repotnya, jika sopir mengantuk, tak ada sopir cadangan.

Dalam kondisi seperti itu, ia biasanya berubah peran: duduk di belakang kemudi, menjadi sopir cadangan. Kerap kali, mobil ia kendarai hingga di rumah jabatan, membuat petugas Satpol PP yang bertugas di rumah jabatan terkecoh.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s