[Jejak 27] Mobil Dinas si Jago Mogok

Mobil dinas Mitsubisi Pajero itu peninggalan pendahulunya sebelum Rudiyanto menjabat bupati Sinjai, 2003. Kendaraan dengan nomor polisi DD 1 Z keluaran tahun 1996 itu dia gunakan setiap berkunjung ke desa-desa hingga menjelang akhir dua periode masa jabatannya.

Tidak mudah untuk kendaraan berusia lebih dari sepuluh tahun menapaki pendakian dan penurunan di jalan-jalan kampung. Tak mengherankan bila kendaraan dinas ini kerap ngadat, mogok di tengah jalan. Tapi Rudiyanto tak ambil peduli. Bila kendaraan mogok saat melakukan kunjungan, ia berpindah ke kendaraan pejabat lain yang menyertainya.

Sekali waktu ia ke Makassar memenuhi undangan Gubernur Sulawesi Selatan. Malam hari ia kembali ke Sinjai. Dasar kendaraan tua, mobil dinas itu rewel di tengah perjalanan.

Kendaraan mogok di daerah Bantaeng, masih puluhan kilometer sebelum Sinjai. Mobil dititip sementara di daerah itu. Sopir menawarkan jasa mencari mobil pengganti, tapi Rudiyanto menggeleng.

“Tidak usah,” elaknya.

Sesaat berselang, sebuah angkutan umum jurusan Makassar-Sinjai melintas. Rudiyanto melambaikan tangan ke arah jalan. Kendaraan Panther itu menepi. Rudiyanto naik ke mobil. Ia duduk di kursi paling belakang, di antara penumpang yang lain.

Tak seorang penumpang kendaraan umum itu yang mengenalnya. Sopir pun tak tahu penumpang yang naik di daerah Bantaeng seorang kepala pemerintahan sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan.

Memasuki wilayah Sinjai, satu demi satu penumpang diantar hingga ke kediaman masing-masing. Ternyata, Rudiyanto penumpang terakhir yang ada di mobil itu.

“Turun di mana ki, Pak,” sopir bertanya dalam bahasa Indonesia dialek Makassar.

“Rumah saya depan Kantor Pos,” jawab Rudiyanto.

Sopir terhentak mendengar jawaban itu. Sebagai pengendara angkutan umum yang tiap hari bolak balik Sinjai-Makassar, ia paham betul, di depan Kantor Pos tak ada rumah tinggal pribadi. Yang ada rumah jabatan Bupati Sinjai.

Seketika itu ia sadar, penumpang yang tersisa adalah Bupati Sinjai, Andi Rudiyanto Asapa. Ia semakin yakin setelah memperhatikan dengan saksama wajah penumpangnya. Berulang kali sopir kendaraan umum itu mengucapkan kata maaf.

“Coba na kutahu ki, kita kuantar duluan,” katanya kemudian.

“Tidak apa-apa.”

Kali lain, Rudiyanto menggunakan mobil dinas Pajero tua itu untuk mengikuti peresmian PLTA, bantuan Pemerintah Norwegia. Duta Besar negara sahabat itu duduk semobil dengan bupati. Di perjalanan, kendaraan yang ditumpanginya kembali rewel. Mobil itu mogok, tak bisa lagi berjalan.

Rudiyanto merasa malu. Tapi pejabat negara asing itu merasa sebaliknya. Sang Duta Besar justeru kagum setelah dijelaskan bahwa kendaraan dinas bupati yang berusia lebih dari sepuluh tahun itu tak mau ia ganti.

“Saya rasa masyarakat Anda bangga punya pemimpin seperti Anda,” tamu asing itu memuji, seperti dikisahkan Irwan, ajudan yang menyertai Rudiyanto saat itu.

Sejak awal menjabat bupati, Kepala Bagian Umum Pemerintah Kabupaten Sinjai sudah mengajukan usulan anggaran penggantian mobil dinas bupati. Tapi setiap kali diajukan, selalu saja usulan dicoret. Alasannya penolakan selalu sama, tak berubah.

“Lebih baik anggaran pembelian mobil bupati digunakan untuk keperluan program masyarakat desa.”

Apa boleh buat, karena alasan itu, kendaraan dinas keluaran 1996 yang sering mogok ini senantiasa menemani Rudiyanto dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan di Kabupaten Sinjai. Sikap ini bukan tak punya ongkos? Saban harus meninggalkan wilayah Sinjai, Rudiyanto mau tidak mau harus menggunakan kendaraan pribadi. Pajero tua si jago mogok itu tak ramah lagi diajak berjalan jauh.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to [Jejak 27] Mobil Dinas si Jago Mogok

  1. fatgan says:

    assalamualaikum…
    Salut. Kagum. Setelah baca baca jejak langkah beliau yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri sebagai manusia dan seorang pemimpin… lebih mendahulukan masyarakatnya… keren juga nih beberapa kejadian yg ada di kisah2 ini… betapa beliau tidak mengutamakan kedudukannya sebagai seorang kepala daerah… semoga cita-citanya membawa Sulsel lebih baik bisa terwujud… amiin… salam

  2. Peace Brown says:

    wkwkwk…saking sederhananya pa rudi tdk pernah mau ganti mobil dinas..mantap

    • kotaklover says:

      yupp kami pun dibuatnya tertawa dengan aksi kesederhanaan pak rudi ini… nice story… beliau lebih mementingkan warganya dibanding untuk keperluan pribadinya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s