[Jejak 26] Penggoda di Kelas Ekonomi

Setiap kali melakukan perjalanan menggunakan transportasi udara, Rudiyanto selalu memilih kelas ekonomi. Jarang ia mau memanfaatkan fasilitas kelas bisnis dengan kursi yang lebih legah dan layanan eksklusif. Ia merasa lebih nyaman duduk di kursi belakang, berbaur dengan penumpang lain.

Kebiasaan lain, ia selalu naik ke pesawat pada kesempatan terakhir. Karena kebiasaan itu, tidak jarang ia bersua pejabat lain dalam penerbangan yang sama dengan kelas yang berbeda. Biasanya, pejabat daerah yang ia temui sontak berdiri, menyilakan kursinya diisi Rudiyanto. Tapi permintaan itu tidak mau ia penuhi.

Pilihan duduk di kelas ekonomi, tentu saja diikuti pejabat Pemerintah Daerah Sinjai lainnya. Hampir tak ada kepala dinas yang menggunakan kelas bisnis saat melakukan perjalanan dengan pesawat udara. Semua sama: kelas ekonomi.

Sekali waktu Rudiyanto duduk di kursi dekat pintu darurat. Saat pesawat mulai lepas landas, seorang pramugari menghampiri.

Awak kabin itu memberi instruksi bagaimana melakukan tindakan penyelamatan dalam keadaan darurat. Dia hanya diam mendengar. Usai memberi instruksi, ia minta pramugari mempraktikkan instruksinya.

“Pintu ini pasti sudah lama tidak dibuka. Jangan-jangan nanti sulit terbuka,” katanya memberi alasan.

Pramugari terdiam. Dia sadar, membuka pintu darurat ketika pesawat sudah mengudara saat bukan dalam keadaan darurat bisa menuai bencana. Rudiyanto juga menyadari kemungkinan itu. Ia memang hanya ingin menggoda.

Kali lain, ia berangkat ke Jakarta bersama beberapa kepala dinas. Ia tahu, di antara mereka ada yang takut naik pesawat. Bayangan kecelakaan selalu menghantui pikirannya. Ketika pesawat sudah mengundara, suhu tubuhnya sudah mulai dingin, tak banyak bicara.

Di dalam perjalanan, pesawat melintas di antara gumpalan awan tebal. Seperti biasa, keseimbangan pesawat terganggu.

Pesawat mulai goyang. Banyak penumpang membisu. Dalam diam, mereka membaca doa-doa keselamatan di dalam hati.

Tiba-tiba Rudiyanto memalingkan muka ke arah seorang kepala dinas yang duduk tak jauh dari tempatnya. Dengan muka serius dia berseru, “Biasanya kalau sudah goyang seperti ini alamat mau jatuh ini pesawat.”

Rudiyanto memang hanya ingin menggoda lawan bicaranya. Dia paham, cuaca yang tidak bersahabat memungkinkan pesawat bergoyang. Tapi bagi orang-orang yang diliputi perasaan takut, godaan itu justeru membuatnya semakin takut. Mukanya semakin pucat.

Bukannya menghibur atau berterus terang hanya bercanda agar ketakutan berkurang, Rudiyanto malahan memintanya agar pasrah dengan keadaan yang ada.

“Sudahlah. Baca bismillah saja kalau ajal kita sampai di sini.”

Sejak itu, kepala dinas yang takut penerbangan itu sering mencari maskapai lain jika harus mengikuti Rudiyanto keluar kota menggunakan transportasi udara.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to [Jejak 26] Penggoda di Kelas Ekonomi

  1. hayat says:

    wuiiiih dibalik karakternya yang serius dan tegas… ada sisi humorisnya juga toooh… gutlak pak rudi… selamat berjuang… semoga kebiasaan ini terus berlanjut hingga kelak memimpin sulsel… semangat!!! garuda-na metal (menang total).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s