[Jejak 25] Pengobatan Gratis Layanan Jamkesda

Apa jadinya bila seorang anggota keluarga menderita sakit yang memerlukan perawatan di rumah sakit? Bagi masyarakat dengan kemampuan lebih, dana cadangan yang tersedia masih bisa menutupi biaya perawatan.

Penduduk dengan penghasilan pas-pasan, apalagi mendekati minus, masalahnya menjadi lain. Bagi mereka, biasanya hanya ada dua pilihan: melepaskan benda berharga yang masih tersisa — berapa pun nilainya – untuk diuangkan atau membiarkan si sakit bertahan dengan derita yang dialaminya.

Kenyataan inilah yang mendasari lahirnya gagasan terbentuknya program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) di Kabupaten Sinjai. Program ini mensyaratkan setiap keluarga dibebankan Rp 10.000 per bulan. Dana yang terkumpul dikelola oleh Badan Pelaksana (Bapel) Jamkesda dengan melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) agar pengelolaannya lebih transparan. Warga yang tidak mampu membayar iuran, bebannya ditanggung oleh pemerintah daerah.

Dengan program ini, anggota keluarga peserta Jamkesda bebas berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sinjai. Tidak ada beban biaya, berapa pun ongkos pengobatan yang dibutuhkan. Semuanya ditanggung Jamkesda, sepanjang penanganan pengobatan bisa ditangani di RSUD. Tidak terkecuali tindakan semacam operasi cesar bagi perempuan yang melahirkan.

Mulanya, tidak semua masyarakat sepakat dan bersedia mengikuti program ini. Tidak sedikit warga yang enggan menyisihkan dana Rp 10.000 tiap bulan untuk iuran Jamkesda. Dana sebesar itu masih dirasakan sebagai beban, bukan investasi untuk pengobatan bila ada anggota keluarga yang menderita sakit. Toh, program ini tidak bersifat wajib. Tak ada paksaan bagi warga yang tidak berkenan.

Seiring perjalanan waktu, keengganan itu perlahan-lahan berubah. Masyarakat semakin sadar pentingnya menjadi peserta Jamkesda. Kesadaran itu kian dirasakan saat ada anggota keluarga yang menderita sakit. Iuran Rp 10.000 sebulan jauh lebih efisien dibanding biaya sekali pengobatan di rumah sakit.

Tapi program ini bukan tanpa celah? Data kependudukan yang belum sempurna memungkinkan terjadinya lubang itu. Tidak sedikit anggota keluarga yang bermukim di daerah lain bisa memanfaatkan kartu Jamkesda untuk pengobatan gratis ini. Kenyataannya, anggota keluarga peserta Jamkesda yang tinggal di Kalimantan pun ada yang pernah memanfaatkan peluang tersebut.

Ibarat mendayung sambil menangkap ikan, pelaksanaan program pelayanan kesehatan gratis berjalan sembari membenahi data kependudukan. Kini masyarakat Sinjai tak perlu lagi memikirkan biaya pengobatan bila menderita sakit. Tidak hanya bagi masyarakat yang memiliki kemampuan secara ekonomi berlebih, tapi juga masyarakat miskin.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s