[Jejak 24] Guru Honorer dari Pelosok Desa

Puluhan tahun menjadi guru di daerah terpencil bukan jaminan bisa diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Ada aturan yang mesti diikuti, ada ketentuan yang menjadi pijakan. Tanpa memenuhi ketentuan yang ada, impian menjadi pegawai negeri, apa boleh buat, mesti diketepikan.

Itulah yang dialami 93 guru honorer yang bertugas di pedalaman Kabupaten Sinjai. Mereka lulusan PGSDI (Pendidikan Guru Sekolah Dasar Islam), tapi dalam praktik sehari-hari berperan sebagai guru kelas. Peran itu diemban rata-rata dalam rentang waktu yang panjang, antara 20-30 tahun tahun.

Ketentuan menggariskan, lulusan PGSDI diarahkan menjadi guru agama, bukan guru kelas. Rudiyanto merasa ketentuan ini tidak bijaksana. Guru-guru itu sudah diberi beban tugas sebagai guru kelas selama puluhan tahun dalam mendidik anak negeri di pelosok-pelosok desa, tapi tidak dihargai sebagai guru kelas hanya karena mereka lulusan PGSDI. Itu kebijakan yang tidak bijaksana. Tak ada penghargaan atas pengabdian.

Kenyataannya, tenaga mereka tetap dibutuhkan dalam mengisi kekurangan tenaga pengajar di pedalaman Kabupaten Sinja, daerah yang jauh dari sentuhan perkembangan teknologi dan minim fasilitas. Kebutuhan itu harus dibayar dengan penghargaan. Imbalan yang paling berharga bagi guru honorer bila diangkat menjadi PNS.

Rudiyanto merasa berkewajiban memperjuangkan nasib para pendidik itu. Dia segera mengirim surat ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Surat serupa dilayangkan ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, juga ke Kementerian Agama.

Isinya sama: menjelaskan kondisi 93 guru honorer itu, disertai bukti-bukti pendukung yang dimiliki para pendidik tersebut. Kondisi kebutuhan tenaga pengajar di pelosok-pelosok daerah di Kabupaten Sinjai juga dijelaskan.

Toh, mengubah ketentuan yang sudah ada tidak semudah membalik telapak tangan. Memperjuangkan nasib 93 guru honorer yang mengabdi puluhan tahun di pelosok desa tidak semudah yang dibayangkan. Ada proses yang mesti dilalui. Dibutuhkan perjuangan yang panjang untuk meyakinkan pengambil keputusan agar bisa memahami kondisi yang sebenarnya.

Bagaimana pun, tetap saja ada jalan keluar meski dilorong yang buntu. Perjuangan yang sungguh-sungguh dilandasi niat yang bersih pada akhirnya bisa berbuah manis. Setelah melalui perjalanan waktu lebih dari setahun, para pendidik lulusan PGSDI itu kembali bisa tersenyum. Impian mereka diangkap menjadi PNS menjadi kenyataan.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s