[Jejak 23] Melepas Dahaga di Dekat Kamar Jenazah

Merokok menjadi bagian yang masih sulit terpisahkan dalam keseharian Rudiyanto. Kemana-mana rokok merek Dji Sam Su senantiasa menyertai langkahnya. Ia memang selalu menghisap rokok dengan bungkus berwarna kuning itu.

Suatu hari dia harus menghadiri sebuah acara di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sinjai. Aturan di tempat ini jelas: dilarang merokok di area rumah sakit, sebagaimana laiknya tempat layanan umum lainnya.

Aturan itu tentu saja berlaku bagi siapa pun. Tak ada pengecualian. Areal ini harus benar-benar steril dari asap rokok. Jangankan pasien yang menghuni rumah sakit, orang sehat pun sedapat mungkin tidak terpapar polusi udara yang terbawa oleh asap pembakaran tembakau.

Nah, sebelum acara berakhir, ternyata keinginan merokok datang mendera. Ia tahu, aturan di tempat itu tidak membenarkan keinginannya merokok bisa diwujudkan. Ia juga tak ingin melanggar aturan yang sudah digariskan.

Tapi mulutnya benar-benar sudah terasa pekat. Keinginan merokok serasa sudah sampai di ubun-ubun. Duduknya mulai gelisah. Konsentrasi mengikuti acara terpecah. Pikirannya tidak fokus lagi.

Sejenak ia berpaling, menengok kiri-kanan. Ia mencari areal yang masih memungkinan bisa melepaskan dahaga merokok. Tak menemukan areal yang dicari, ia akhirnya mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat kepada ajudan yang menyertai untuk mendekat.

“Tolong carikan tempat yang bebas asap rokok,” bisiknya.

Dengan sigap ajudan meninggalkannya. Ia segera melaksanakan permintaan itu, mencari tempat yang masih memungkinkan bisa merokok. Tak lama berselang, ajudan kembali menemui Rudiyanto.

“Yang ada di dekat ruang jenazah. Tapi setahu saya, jarang ada orang yang merokok di situ. Kalau pak bupati tidak keberatan, silakan,” ucap ajudan. Ia menyampaikan penuturan seorang petugas rumah sakit yang dijumpainya.

“Tidak masalah. Yang penting bisa merokok,” ujarnya, kemudian.

Tanpa pikir panjang, Rudiyanto berdiri dari duduknya. Ia minta ditunjukkan tempat yang disebutkan. Perlahan ia berjalan. Tepat di dekat ruang jenazah rumah sakit, langkah kakinya terhenti. Di tempat itulah ia melepaskan dahaganya merokok.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s