[Jejak 22] Telor Dadar Makanan Istimewa

Pola makan Rudiyanto Asapa berbeda dengan orang kebanyakan. Jarang makan di siang hari, biasanya sore menjelang malam ia baru duduk di meja makan. Menunya pun tidak perlu aneka rupa dengan berbagai variasi masakan. Nasi dan telor dadar sudah lebih dari cukup.

Kebiasaan ini semula tidak banyak dipahami oleh masyarakat Sinjai. Setiap kali berkunjung ke desa, masyarakat kerap menyediakan menu makanan yang istimewa. Makanan yang disediakan berbeda dengan menu mereka sehari-hari.

Bagi masyarakat di kampung-kampung di Sulawesi Selatan, tamu sedapat mungkin dijamu dengan sebaik-baiknya. Menyediakan makanan istimewa menjadi bagian dari upaya meninggikan derajat tamu. Apalagi tamu terhormat, seperti bupati.

Itulah yang terjadi saat Rudiyanto berkunjung di sebuah desa di Sinjai. Tuan rumah antusias menyiapkan makanan dengan beragam menu. Ada masakan dari daging sapi, daging ayam, bahkan makanan dari daging kuda. Jenis makanan yang terakhir ini memang masih sering dijumpai dalam jamuan makan masyarakat setempat.

Warga berharap bupati senang dengan bervariasi masakan dan menyantap makanan yang dihidangkan dengan lahap. Kenyataannya lain, berbeda dengan harapan. Ia tak selahap yang dibayangkan tuan rumah. Aroma berbagai makanan tak membuatnya tergoda. Kalau tidak sebatas mencicipi – untuk tidak mengecewakan penjamu – kerap kali ia hanya minta disediakan menu sederhana: telor dadar.

Soal pilihan yang sederhana ini, ia biasanya melontarkan alasan pembenar kepada masyarakat. Katanya, “Jangan repot membuat makanan yang menghabiskan banyak biaya. Selain boros, menu seperti daging sapi atau daging kuda juga bisa mendatangkan berbagai macam penyakit kalau terlalu sering dimakan.”

Boleh jadi, alasan pembenar itu hanya sekadar dalih. Tapi dengan pola makan seperti itu ia bisa menunjukkan bukti, buah dari kesederhanaan tersebut. Berat badan yang ideal membuatnya lebih enteng berjalan saat berkunjung ke desa-desa. Kakinya lebih ringan melangkah, menjejak jalan setapak yang kadang mendaki.

Toh, lambat laun pola makan Rudiyanto dipahami masyarakat. Pemahaman itu dirasakan setelah ia berulang kali berkunjung ke desa-desa. Tidak jarang aparat pemerintah daerah yangselalu menyertainya membisiki tuan rumah saat berkunjung ke sebuah desa. Karena itu, penduduk merasa terhormat bila kunjungan dilakukan di sore hari, waktu makan sang tamu.

Ibu-ibu aparat desa pun akhirnya maklum dengan kebiasaan Rudiyanto. Selain sederhana dalam soal makan, ia berusaha sedapat mungkin tidak banyak merepotkan masyarakat.

Tapi kebiasaan lain yang biasa ia lakoni saat berkunjung ke desa-desa, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, ia bisa tiba-tiba saja nyelonong masuk ke dapur, menyalami satu demi satu ibu-ibu yang tengah memasak. Tanpa menghiraukan aroma beragam di dapur, ia menyapa sembari mengulur tangan. Ibu-ibu yang sedang mencuci piring pun dijabatnya.

Sering kali ia mesti berhenti beberapa saat di tempat masak untuk melayani warga yang minta foto bersama. Kesederhaan tak hanya ditunjukkan dengan pola makan, tapi juga dengan melangkah sampai di dapur.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s