[Jejak 21] Air PDAM Kuning, Masyarakat Protes

Sekali waktu sekelompok masyarakat yang tergabung dalam sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) melakukan aksi protes. Mereka melakukan aksi demonstrasi dengan mendatangi kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat. Warga minta PDAM lebih peduli kepada kepentingan masyarakat dengan memberikan pelayanan yang baik.

Pangkal masalahnya, air yang mengalir ke rumah-rumah penduduk cenderung berwarna kuning. Selain dianggap tidak bersih, air dari PDAM juga kerap berbau lumpur. Masyarakat minta persoalan ini mendapat perhatian serius.

Mendengar adanya aksi massa di kantor PDAM, Rudiyanto bergegas menemui para pendemo. Di tengah hiruk pikuk teriakan massa, ia menjelaskan kondisi yang sebenarnya terjadi. Di depan para pendemo, Rudiyanto tidak menyangkali kondisi air yang mengalir dari pipa PDAM kurang jernih. Ia membenarkan isi tuntutan itu.

Suara riuh kembali terdengar, menimpali pengakuan tersebut. Rudiyanto membiarkan kegaduhan itu sejenak. Setelah suasana sedikit tenang, ia kembali meneruskan pembicaraannya. Dia menjelaskan kondisi wilayah Sinjai yang memang tidak mudah menemukan sumber air bersih.

Selain sulit mendapatkan sumber air yang bersih, struktur pipa yang rusak semakin menambah parah aliran air sehingga kerap menjadi keruh. Ia minta masyarakat bersabar, sembari mencari jalan penyelesaian agar bisa lepas dari masalah tersebut.

Sebagaimana halnya masyarakat, dia juga menyatakan merasakan hal yang sama. Air PDAM yang mengalir di rumah jabatan tidak lebih baik dari air yang mengalir ke rumah-rumah penduduk.

“Bukan kalian saja yang mandi air kuning, saya juga begitu,” ucapnya, kemudian.

Masyarakat yang berdemo terdiam mendengar ucapan itu. Tak banyak lagi yang angkat bicara. Rudiyanto lalu menantang para pendomo untuk membuktikan ucapannya. Dia mengajak mereka mengecek langsung kondisi air PDAM di rumah jabatan, tempatnya menginap.

“Tidak ada perlakuan khusus buat rumah jabatan bupati. Kalau tidak percaya, silakan periksa.”

Tak sampai 15 menit berselang, demo berakhir. Massa pendemo kemudian membubarkan diri, meninggalkan halaman kantor PDAM. Mereka akhirnya menyadari, kondisi yang ada di wilayah ini membuat sulit mendapatkan air yang bersih. Mereka juga bisa memahami, seperti masyarakat umumnya, kenyataan yang sama ternyata juga dialami bupati.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s