[Jejak 20] Menyalurkan BLT di Kaki Gunung

Desa itu jauh dari hiruk pikuk keramaian. Hampir tak ada kendaraan yang melintas. Jangankan roda empat, sepeda motor pun masih terbilang minim. Penduduk di desa yang terletak di kaki gunung ini masih perlu berjalan menapaki pematang untuk bisa sampai di kota kecamatan.

Ke desa inilah kaki Andi Rudiyanto Asapa melangkah saat akan menyalurkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai realisasi dari program pemerintah untuk rakyat miskin. Ia mesti meninggalkan jejak kaki sepanjang kurang lebih tiga kilometer untuk sampai di rumah salah seorang penduduk yang berhak menerima bantuan.

Jalan yang mendaki membuat seorang aparat Pemerintah Kabupaten (Pemda) Sinjai yang menyertainya sempat mengeluh kelelahan. Tapi Rudiyanto seakan tak merasakannya. Semangat ingin bertemu langsung dengan warga penerima bantuan lebih kuat mendorongnya. Semangat itu meringankan langkah kakinya.

Penyaluran BLT di Sinjai berbeda dengan di banyak daerah di Indonesia. Di daerah-daerah tersebut, pembagian bantuan bagi masyarakat kurang beruntung secara ekonomi diserahkan kepada Kantor Pos. Pemerintah Daerah hanya memberi data warga yang berhak menerima.

Model penyaluran semacam itu tidak diterapkan di Sinjai. Rudiyanto membuat cara sendiri. Ia ingin bantuan benar-benar sampai di tangan rakyat yang berhak. Bantuan diserahkan dengan mendatangi satu demi satu kediaman warga penerima.

Rudiyanto tak ingin masyarakat miskin sampai harus mengeluarkan biaya meski hanya sebatas ongkos traspor dari desa ke kota kabupaten untuk menerima bantuan. Maklum, penerima BLT tersebar di banyak desa. Belum lagi bila harus berdesakan antri menunggu giliran menerima di tempat yang disediakan.

“Apa yang mereka dapat jika harus membayar ongkos traspor dan biaya lainnya?” Rudi memberi alasan.

Tidak tanggung-tanggung, ia mengerahkan tak kurang dari 300 karyawan Pemda untuk menyalurkan bantuan kepada lebih dari 13 ribu kepala keluarga yang terdata berhak menerima. Muspida – bupati, Kajari, Dandim, Kapolres — dilibatkan mengkoordinir tiap kecamatan.

Para karyawan yang dikerahkan bertugas mendatangi langsung kediaman penerima. Keluarga yang terdata tapi dinilai tak pantas menerima, mau tidak mau, namanya segera dicoret. Bantuan dialihkan kepada keluarga yang lebih membutuhkan. Dengan begitu, bantuan bisa lebih akurat, tepat pada sasaran sesuai esensi program BLT. Hanya warga yang betul-betul miskin menerima bantuan.

Benar, tidak ada keringat yang sia-sia. Jalan kaki lebih tiga kilometer menapaki sebuah desa di kaki gunung minimal bisa menyehatkan tubuh. Meski tak ramai dari publikasi, tapi ternyata  upaya menyalurkan BLT langsung kepada keluarga yang berhak berbuah penghargaan dari Kantor Pos Pusat.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s