[Jejak 19] Pasar Terbakar, Pemadam Bermasalah

Bencana itu datang di tahun-tahun awal Andi Rudiyanto menjabat Bupati Sinjai. Malam itu ia tengah melayani sejumlah wartawan dari Jakarta yang meliput perkembangan pendidikan di Kabupaten Sinjai. Rudiyanto menemui para wartawan di rumah jabatan. Pembicaraan berlangsung hingga melewati puncak malam.

Para wartawan itu ingin melihat dari dekat perkembangan pendidikan di daerah ini. Mereka ingin mendengarkan penjelasan langsung kiat pemerintah setempat membebaskan anak didik dari beban biaya pendidikan. Masa itu baru Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali yang menggratiskan biaya pendidikan. Sebagaimana Jembrana, kala itu Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sinjai terbilang kecil. Kondisi inilah yang mengundang perhatian para wartawan dari Ibu Kota itu.

Di tengah pembicaraan, terdengar kabar tak menggembirakan. Pembawa berita menyampaikan, Pasar Sentral Sinjai terbakar.

Sejumlah bangunan di pasar itu luluh lantak. Bangunan yang terbakar menghitam bagai arang. Masyarakat dan pedagang panik. Mereka bahu membahu memadamkan nyala api yang terus membara dengan peralatan seadanya.

Sontak pembicaraan terhenti. Setelah mohon pamit kepada tamunya, Rudiyanto bergegas berangkat ke lokasi kebakaran. Gerakannya refleks. Naluri membawa kakinya melangkah ke
kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Ingatannya masih segar, di kantor itu mobil Dinas Kebakaran milik Pemerintah Daerah Sinjai diparkir.

Tiba di tempat tujuan, ia segera naik ke kendaraan operasi itu. Tak ingin membuang-baung waktu, Rudiyanto mengambil kunci kontak mobil. Petugas Dinas Kebakaran hanya bisa terdiam. Tak seorang pun yang angkat bicara. Mereka seakan membisu melihat bupati berinisiatif mengendarai mobil pemadam kebakaran.

Kunci kontak segera diputar. Mesin kendaraan berbunyi. Asap mengepul dari knalpot. Saat gigi perseneling digerakkan ke angka satu, ternyata kendaraan tak bisa bergerak. Berulang kali ia menginjak gas dan kopleng, tapi mobil tak bisa berjalan.

Rudiyanto kesal. Dengan perasaan dongkol ia turun dari kendaraan pemadam itu. Orang-orang yang ada yang tempat itu tak bisa berkata apa-apa. Semua membisu. Ia segera memanggil Kepala Bagian Umum Pemerintah Daerah Sinjai.

Dengan suara yang agak meninggi, ia menanyakan kondisi kendaraan operasional tersebut. Setelah dijelaskan akhirnya diketahui, ternyata mobil pemadam sudah lama rusak. Tak ada
upaya perbaikan. Lalu kenapa kendaraan yang amat vital di saat-saat darurat seperti ini dibiarkan tidak diperbaiki?

Dia kemudian mengusut pangkal masalahnya. Dari informasi yang ia peroleh, Pemerintah Daerah sebenarnya sudah pernah mengajukan anggaran pembelian mobil pemadam ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), tapi permintaan itu tidak dihiraukan. Pembelian mobil kebakaran dianggap bukan hal yang urgen untuk dianggarkan.

Rudiyanto kesal mendengar informasi tersebut. Ia kemudian mengajak beberapa anggota DPRD melihat langsung kondisi mobil pemadam yang sudah tua dan tidak berfungsi dengan baik.

Masyarakat yang menyaksikan kekecewaan bupati spontan bereaksi. Tanpa diberi komando, mereka bersamaan memberi aplaus. Masyarakat memuji tindakan cepat bupati yang terjun langsung ke lapangan melihat kondisi yang sesungguhnya.

Reaksi Rudiyanto menyadarkan anggota DPRD pentingnya mobil pemadam kebakaran. Kendaraan jenis itu memang tidak selamanya bisa digunakan, tapi menjadi sangat berarti saat bencana kebakaran datang menyapa. Tahun berikutnya, pengadaan kendaraan pemadam kebakaran disetujui. Kini daerah ini memiliki dua unit mobil pemadam kebakaran.

Lalu, apa yang membuat Rudiyanto begitu peduli? Rupanya, perhahatian kepada masyarakat tidak lepas dari latar belakang perjalanan karirnya sebagai pengacara. Kepada wartawan Rudiyanto pernah menyatakan, sebagai lawyer dan mantan Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, ia sudah kerap bersentuhan dengan masyarakat. Pemenuhan dan hak-hak dasar rakyat selalu menjadi perhatian. Itu pula yang selalu diingatkan oleh seniornya di LBH, lembaga tempatnya berkiprah sebelum menjadi biroktrat. “Saya bilang, hingga nanti saya menjadi bupati, kalau itu saya tidak terapkan, maka saya berdosa,” ucapnya pada sebuah kesempatan.

Karena itu, ketika menjabat Bupati Sinjai perhatiannya kepada rakyat menjadi program utama. Perhatian itu tak hanya ditunjukkan dalam bentuk program tertulis, tapi juga dalam tindakan nyata. Itu, antara lain dibuktikan ketika Pasar Sentral Sinjai terbakar, di puncak malam.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to [Jejak 19] Pasar Terbakar, Pemadam Bermasalah

  1. Peace Brown says:

    Saya saksi mata dan cerita ini benar adanya..karena wkt itu saya melihat pa rudi ke lokasi pasar yang terbakar dgn memakai mobil itu..dan bersama rakyat memadamkan api

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s