[Jejak 16] Rumah Jabatan, Rumah Rakyat

Puncak malam telah berlalu. Jalan-jalan Kota Sinjai sudah sepi. Tak banyak lagi kendaraan yang lalu lalang. Sebagaimana lasimnya, jam-jam seperti itu masyarakat umumnya tengah terlelap dalam tidur di kediaman masing-masing.

Kondisi itu kontras dengan suasana di rumah jabatan bupati Sinjai. Lampu penerang di ruang utama masih benderang. Pintu depan masih terbuka. Beberapa orang di dalam ruangan tenggelam dalam pembicaraan. Terkadang serius, sesekali diselengi canda. Rudiyanto salah satu di antara orang-orang itu.

Di tengah pembicaraan, beberapa warga datang. Kehadiran mereka sontak menghentikan ombrolan. Suasana berubah menjadi hening. Pandangan tertuju kepada warga yang datang.

“Tabe, Puang, permisi,” ucap seorang dari warga itu.

Dia bermohon diizinkan menyampaikan sesuatu sembari membungkukkan badan.

“Di rumah saya sudah beberapa hari air PAM tidak jalan. Kalau pun mengalir, airnya kotor,”  warga itu menyampaikan keluhannya.

Rudiyanto hanya diam mendengarkan keluhan itu. Dia membiarkan warga yang mengadu menyampaikan masalahnya hingga tuntas. Dia diam menyimak. Pandangannya terus menatap wajah orang yang berbicara di hadapannya.

Setelah mendengarkan warga itu menyampaikan masalahnya, Rudiyanto segera menghubungi penanggung jawab pengelola air bersih. Saat itu juga, ketika orang yang dihubungi sangat mungkin sudah nyenyak. Dia perintahkan masalah ini segera diselesaikan.

Keluhan yang sama kerap disampaikan saat mereka merasakan listrik yang byar pet, mati-menyala. Sebagaimana air bersih, masalah ini pun segera ditanggapi. Keluhan warga direspon. Penanggung jawab pengelolaan penerangan listrik diminta menyelesaikan masalah tersebut, secepatnya.

Sikap Rudiyanto yang selalu membuka pintu rumah jabatan dan menyilakan warga menyampaikan masalahnya hingga melewati puncak malam dikisahkan seorang ajudan Bupati Sinjai.

“Kalau ada masyarakat yang mengadu, saat itu juga kepala dinas dipanggil. Jam berapa pun,” ucapnya.

Rudiyanto, agaknya, menjadikan rumah jabatan bupati sebagai rumah rakyat, tempat masyarakat menyampaikan masalah yang mereka hadapi. Ia tak ingin rumah jabatan menampakkan wujud yang terkesan angker bagi masyarakat.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s