Lebih Dekat Dengan Andi Rudiyanto Asapa: “Gerindra Harus Jadi Penentu”

Tegas dan konsisten merupakan gambaran dirinya. Keberpihakannya pada rakyat kecil tak diragukan lagi. Bahkan ia rela terjun langsung, keliling keluar masuk perkampungan hanya karena ingin memastikan, apakah masyarakat yang dipimpinnya sudah tidur enak atau belum. Tak heran bila sosoknya kian disegani semua kalangan.

Sosok itu tak lain adalah Andi Rudiyanto Asapa (44), mantan lawyer yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Sulawesi Selatan –yang juga masih menjabat Bupati Sinjai untuk periode kedua hingga 2013 mendatang. Sebagai kader Gerindra yang diamanahi tugas untuk membesarkan partai ia pun bertekad untuk mendudukkan kader Gerindra satu fraksi di tingkat propinsi dan enam legislator di pusat pada pemilu 2014 yang akan datang. “Tugas ini saya akui sangat berat. Bahkan ada yang menilai saya mimpi. Saya bukan mimpi, kalau saya pemimpi, Kabupaten Sinjai mungkin tidak seperti ini. Karena itu saya butuh dukungan semua kader Gerindra di Sulsel,” ujar pria kelahiran, Gorontalo, 26 Mei 1967 ini.

Beragam terobosan untuk mengantarkan Gerindra ke puncak telah direncanakan. Salah satu langkah yang menjadi prioritas dalam rangka mewujudkan target tersebut adalah memperkuat struktur Partai Gerindra. Dimana ia bertekad membentuk pengurus hingga tingkat ranting. Bukan hanya itu semua tingkatan pengurus, diupayakan memiliki kantor sendiri. Disamping itu, penguatan program aksi serta manivesto perjuangan partai terus ditanamkan kepada para kader hingga pelosok.

Bagi lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini mengadakan kunjungan ke pelosok desa untuk mengetahui beragam persoalan yang dihadapi masyarakat atau sekadar menyapa mereka bukanlah sekadar meraih simpati, tapi lebih dari itu. Dari sanalah, ia bisa merancang program dan kebijakan yang terbaik dan tengah dibutuhkan masyarakat. Salah satunya adalah kebijakan pendidikan gratis dari tingkat SD hingga SLTA serta program kesehatan gratisnya. Berkat kerja kerasnya pula, ia kerap menerima penghargaan dari berbagai pihak atas prestasinya membangun wilayahnya. Inipula yang mendasari Partai Gerindra meminangnya untuk bergabung dua tahun silam.

Tentu saja, daya juang dan kemampuan Rudi –sapaan akrabnya— tersebut membuat Prabowo Subianto, sang pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra selalu memuji apa yang dilakukan Rudi. Salah satunya, gerakan minum susu yang diterapkan di daerah itu. “Di negara-negara maju, program itu dilakukan untuk membentuk generasi muda yang kuat dan cerdas,” ujar Prabowo suatu ketika.

Selain sosok yang tegas dan konsisten, Rudi sendiri dikenal sebagai sosok yang tak pernah mengenal lelah dalam mengenyam pendidikan. Meski telah menyandang seorang master di bidang hukum, ia pun tak jarang mengikuti berbagai kursus di bidang hukum serta pemerintahan. Pendidikan formalnya dimulai Sekolah Dasar (SD) di kota kelahirannya Sinjai, tamat tahun 1969. Lepas SD, Rudi pun hijrah ke kota Makassar untuk menempuh pendidikan SMP sampai ke Perguruan Tinggi, hingga akhirnya berhasil lulus sebagai Sarjana Hukum pada tahun 1981 dari Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Pada tahun 1998, Rudi pun berhasil menyelesaikan pendidikan magisternya di Law Faculty Oxford University, London.

Selain sibuk menjabat sebagai Bupati sekaligus politisi Gerindra nomer satu di Sulsel serta beberapa organisasi, ayah dari dua orang anak ini masih rajin menelurkan karya ilmiah di bidang hukum dan pemerintahan. Ia pun kerap menjadi nara sumber di berbagai kesempatan baik tingkat lokal maupun nasional. Lantas seperti apa ia memainkan peran di tengah kesibukannya itu? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda ia paparkan di sela-sela acara upacara Rambu Solo’ di Tana Toraja pada penghujung tahun lalu. Berikut wawancaranya.

Bisa diceritakan sejak kapan Anda terjun di panggung politik?

Saya mulai terjun ke dunia politik praktis sejak tahun 1996, saya diminta masyarakat Sulsel untuk maju menjadi calon anggota legislatif dari PDI pro Mega, meski waktu itu tidak diakui. Pun pada 1998, saya menjadi calon anggota MPR/DPR-RI dari PDI Perjuangan. Dimana sebelumnya saya juga ikut terlibat aktif dalam Kongres Bali, PDI Pro Mega, Kongres Semarang dan Kongres Bali PDI Perjuangan. Dalam perjalanannya, karena ada sesuatu yang tidak cocok, saya pun keluar dari PDIP. Beberapa waktu kemudian, Sultan Hamengkubuwono, meminta saya untuk menjadi Ketua Partai RepublikaN Sulsel, saya terima tawaran itu dan saya susun strategi sehingga partai yang saya usung ini bisa mengalahkan PDIP di Sulsel, meski memang akhirnya tak lolos electoral threshold. Setelah itu Pak Permadi, Pak Prabowo, Pak Hashim meminta saya untuk masuk Gerindra, saya butuh 6 bulan untuk berpikir. Akhirnya dengan bismillah saya masuk dan memimpin Gerindra Sulsel.

Bisa jelaskan apa yang membuat Anda gabung ke Gerindra?

Yang membuat akhirnya saya gabung ke partai ini adalah, pertama; Saya melihat bahwa visi misi perjuangan Partai Gerindra dan juga komitmen Ketua Dewan Pembina untuk kepentingan masyarakat begitu besar. Dan hal ini saya pelajari itu selama 6 bulan. Kedua; Saya melihat bahwa prospek Indonesia, memang ke depan harus ada perubahan, tidak boleh tidak. Kenapa? Karena saya ini sudah merasakan sendiri berada di posisi pemerintahan, saya tahu bagaimana kelemahan pemerintahan ini, untuk itu harus ada pemimpin yang baru dan tegas untuk menjalankan roda pemerintahan ini. Sehingga NKRI ini bisa tetap satu, masyarakat petani kita sejahtera, tidak hanya masyrakat kota yang sejahtera tapi masyarakat di pelosok juga sejahtera.

Apa yang dilakukan Anda di awal kepengurusan?

Mungkin ini yang pertama kali di Indonesia. Saya lakukan pelantikan ketua DPC di daerah masing-masing, tidak saya pusatkan di Makassar sebagai kota propinsi. Dan pada saatnya nanti akan saya lantik PAC di seluruh kecamatan masing-masing, begitu pula dengan pengurus Ranting akan dilakukan di setiap daerah masing-masing.

Seperti apa kondisi Partai Gerindra di Sulsel saat ini?

Saya boleh bilang, Partai Gerindra di Sulawesi Selatan itu sangat kental dan sudah banyak perubahan. Bahkan beberapa waktu lalu, saya lihat hasil survey sebuah lembaga yang menempatkan Partai Gerindra berada pada posisi kedua, hanya beda sedikit dengan Partai Demokrat. Proses pengkaderan melalui pengiriman kader ke Hambalang terus dijalankan dan hasilnya memuaskan, terlihat dari pemahaman, soliditas dan komitmen para kader terhadap perjuangan partai begitu kuat. Saya yakin, kalau proses ini jalan terus, bukan tidak mungkin Gerindra menjadi nomer satu di Sulawesi Selatan.

Sejauhmana kekuatan Partai Gerindra Sulsel dari sisi anggota?

Sekarang anggota yang baru saja bergabung mencapai angka 2 juta orang, belum lagi ditambah anggota sebelumnya sebanyak 1 juta yang sudah kami cetak KTA-nya. Sehingga diharapkan pada pertengahan tahun ini, kami bisa mencetak 2 juta KTA lagi. Angka 3 juta itu sudah fix, hal ini dibuktikan dengan formulir yang sudah kami terima kami. Bahkan hingga sekarang masyarakat terus berduyun-duyun mendaftarkan diri untuk bergabung. Boleh dibilang, diantara partai-partai yang ada di Sulsel, Gerindra cukup seksilah di mata masyarakat.

Lantas, perjuangan apa yang tengah dilakukan Partai Gerindra Sulsel?

Banyak sekali, salah satunya adalah pendidikan, dimana hampir semua guru sukarela di Kabupaten/Kota di Sulsel yang punya data lengkap menjadi perjuangan saya dan Alhamdulillah banyak diantara mereka sudah terangkat. Kemudian masalah distribusi pupuk dan benih, yang selama ini dijalankan pemerintah lewat programnya baru sampai ke tingkat petani dan nelayan tidak tepat waktu, pupuk dan benih itu baru tiba pada saat waktu panen sudah lewat. Untuk itu, Saya ancam kalau ini terus terjadi, saya orang pertama yang maju untuk membereskannya. Untuk itu harus tepat waktu. Kemudian masalah pembinaan kepada masyarakat dalam hal pendidikan politik khususnya pemuda terus kita lakukan, memang Gerindra tidak akan memaksa, tapi bagi siapa saja yang menginginkan perubahan dan setuju dengan program-program Gerindra mari bersama berjuang.

Menjelang pilkada, apa yang dilakukan Gerindra?

Menjelang pilkada, di Pilgub kita harus ambil peran. Itu sudah saya sampaikan kepada seluruh DPC, apakah kita pada posisi cagub atau cawagub itu tergantung dari realita politik ke depan. Ketua Dewan Pembina juga memang mengintruksikan kita harus ambil ‘01’, tapi saya masih akan lihat dinamika realitas politik. Begitu pula dalam pilkada di Kabupaten/Kota, saya perintahkan Partai Gerindra harus ambil peran, meski di daerah itu kita tidak punya wakil di DPRD tapi kita harus jadi penentu. Jika memang ada kader atau tokoh yang memiliki keberpihakan kepada rakyat, maka akan kita dukung. Dan yang terpenting lagi, para kader di cabang bukan sekadar menjadi penggembira tapi menjadi penentu. Itu yang saya tanamkan kepada mereka, bagi saya, mereka harus tampil jadi penentu kemenangan.

Menurut Anda politik itu apa?

Politik itu seni, dan itu adalah hobi, kita tidak perlu muluk-muluk dengan hal-hal yang terlalu jauh, tapi apa yang ada di depan kita dan sepanjang bisa kita selesaikan dan menyentuh kebutuhan masyarakat kita kerjakan. Meski pun saya direpotkan dalam urusan pemerintahan sebagai Bupati, tapi saya juga dalam keberpihakan kepada rakyat cukup besar. Harus diakui, saya pelopor pendidikan gratis di Indonesia dari SD sampai SLTA, sejak 2003 di Kabupaten Sinjai, waktu itu undang-undang pendidikan belum lahir. Saya juga pelopor kesehatan gratis di Indonesia. Nah ini akan saya kumandangkan terus, sehingga Gerindra baik di DPP, DPD, DPC siapapun yang memimpin daerah itu bisa menerapkan hal serupa. Biayanya tidak besar yang terpenting ada kemauan.

Bisa Anda jelaskan bagaimana caranya menerapkan kebijakan tersebut?

Awal-awal saya menjadi bupati di Sinjai saya selalu terjun ke desa-desa, hingga sekarang pun hal itu masih saya lakukan. Suatu ketika, dalam perjalanan itu saya ketemu anak-anak usia sekolah yang sedang menggembala, membajak sawah, mereka bukannya sekolah. Setelah saya tanya, orangtuanya bilang tidak punya biaya. Disamping itu, saya tidur jam 4 pagi, jam 3 dini hari saya keliling Sinjai untuk melihat apakah masyarakat saya sudah tidur enak atau belum.

Suatu ketika saya mendapatkan rumah pegawai saya, seorang pegawai negeri Kabupaten Sinjai sedang bertengkar antara bapak dan ibu, saya pun duduk di bawah rumah itu, saya dengarkan apa yang tengah dipertengkarkan. Ternyata mereka mengalami dilema, bagi mereka apakah harus membayar uang sekolah anaknya yang satu atau membayar rumah sakit untuk anaknya yang lain. Saya pun pernah dikejar oleh masyarakat disangka saya mau maling, terpaksa saya harus jelaskan bahwa saya Bupati Sinjai, akhirnya setelah mereka mengenali saya, mereka pun kaget. Dari temuan itu, saya berpikir kenapa hal itu terjadi pada warganya.

Akhirnya saya panggil kepala dinas, semua guru-guru di Sinjai. Saya tanya mereka berapa sih kebutuhan dana pendidikan Sinjai selama satu tahun. Ternyata tidak terlalu besar, setelah dikalkulasi jumlah sekolah, guru dan siswa kebutuhannya hanya 5-6 miliar. PAD (pendapat asli daerah) Sinjai memang rendah, tapi dengan kemauan yang kuat APBD kita pakai untuk keperluan itu dan berjalan hingga sekarang. Begitu pula dengan biaya kesehatan masyarakat kita terapkan subsidi, ternyata berjalan dan tidak mempengharuhi program-program lain.

Kemudian, pada infrastruktur jalan berdasarkan data UNDP, infrasruktur jalan yang terbaik dan terlengkap di Indonesia itu ada di Sinjai. Karena, tidak ada lagi jalan desa, jalan kecamatan yang tidak nyambung dan tidak tuntas. Kalau pun ada jalan di Sinjai yang lubang-lubang itu bukan jalan kabupaten tapi jalan provinsi atau jalan nasional. Jadi dengan demikian, tidak menghabiskan dana pendidikan, dana kesehatan hanya untuk membangun infrastruktur itu, meski saya bangun juga. Kemudian, semua imam masjid kita kasih insentif, guru-guru ngaji yang selama ini tidak diperdulikan, padahal disitu kuncinya, bagaimana mereka berjuang melakukan pembinaan akhlak anak bangsa yang ada di Sinjai, makanya kita kasih insentif.

Selain itu saya juga sering jalan-jalan ke desa. Sering saya lihat ibu-ibu yang sedang duduk-duduk di tangga, lalu saya singgah, saya tanya, ibu sedang apa? Mereka jawab sedang cari kutu sambil gosip. Kemudian saya bilang, ibu bisa berhenti tidak? Saya minta mereka cerita apa masalahnya kenapa hanya bisa nunggu duduk-duduk di tangga dan gosip. Saya pun tanya, mau tidak tingkatkan pendapatannya, mereka jawab mau, tapi mereka tidak tahu caranya. Saya kasih caranya, tadi saya lewat kuburan di sana ada pohon jambu batu, tolong ambilkan 20-30 biji dan bawa kesini.

Awalnya mereka kaget untuk apa? Saya bilang ambil saja, lalu mereka ambil dan saya suruh rendam di air panas, lalu dipotong-potong, jadilah kripik. Mereka pun saya minta untuk cicipi dan ternyata enak rasanya, meskipun belum ditambah apa-apa (bumbu). Dan saya tahu desa ini penghasil madu, saya pun tanya ada tidak madunya, mereka bilang ada 2 botol. Saya minta ambil 1 botol, lalu saya campur dengan kripik itu dan dicoba ternyata enak. Akhirnya saya bilang kenapa hal ini tidak bisa dikerjakan mereka? Sejak saat itu saya bentuk kelompok usaha home industry. Setidaknya sekarang ada 200 kelompok home industry yang sudah berjalan.

Apa yang menginspirasi gaya kepeminpinan Anda seperti itu?

Saya ini mantan lawyer, mantan direktur LBH memang sering bersentuhan dengan masyarakat. Jadi pemenuhan hak-hak dasar masyarakat itu menjadi konsen saya sejak saya di LBH. Saya bilang ke mereka hingga nanti saya menjadi bupati kalau hal itu tidak saya diterapkan, maka saya berdosa. Saya selalu diingatkan senior-senior, bahwa saya ini pejuang hak asasi, maka yang pertama harus diperjuangkan adalah pemenuhan hak dasar masyarakat.

Ada tujuh hak dasar masyarakat, yakni hak untuk hidup, hak untuk hilang dari rasa takut, hak untuk tinggal, hak untuk dapatkan makan, hak untuk sekolah, hak memperoleh layanan kesehatan dan hak untuk menganut agama dan kepercayaan.  Itulah yang saya terapkan. Kebetulan ketujuh hak-hak itu masuk ke dalam program yang sekarang digembar-gemborkankan oleh bank dunia, lewat program millennium development goals (MDGs), hal ini menurut saya sudah terlambat, karena saya sudah melaksanakan sejak 2003. Proses ini masih berjalan terus dan tinggal pembenahan saja. Kalau MDGs gongnya 2015 harus selesai, maka Sinjai sudah siap menyelesaikan MDGs.

Sebagai seorang kepala daerah dan pimpinan partai, bagaimana Anda mengatur waktunya?

Memang, saya sekarang seorang Bupati, saya harus bagi tugas. Saya berikan waktu untuk partai Sabtu-Minggu mengantor di DPD, kalaupun saya tidak ada, masih ada yang lainnya. Partai ini jangan sampai hanya bergantung pada ketua, karena partai ini bukan milik saya, tapi milik semua pengurus, anggota, jadi kalau tidak ada saya, masih ada Ketua I, atau Ketua II. Saya pun mempersilahkan kepada kader untuk berbuat apa saja demi partai sepanjang baik dan masih di dalam aturan. Dan ketika ada konflik jangan dibawa keluar, panggil saya kita selesaikan bersama, bisa diperbaik atau tidak, kalau tidak bisa perbaiki kita keluar. Selesai. Simple kan.

Apa pesan yang Anda sampaikan kepada kader Gerindra Sulsel?

Saya berharap bahwa apa yang menjadi harapan Ketua Dewan Pembina bisa kita realisasikan tentunya harus dengan kerja keras. Pertama mengenai agenda politik sepertu untuk pilgub nanti, bisa kita mainkan. Apakah posisi saya sebagai 01-02, itu harus kita pikirkan. Kedua, menjelang pemilu 2014 nanti, setidaknya kita harus menggolkan minimal 6 kursi di DPR RI dari DPD Sulsel. Kalau itung-itungan saya, itu angka minimal. Mungkin orang bilang berlebihan, tapi saya meyakini, 8 sampai 10 kursi bisa diraih. Sekarang saja saya tidak pernah diberi amunisi-amunisi dari DPP, saya mampu membuat Gerindra seperti ini, kita bisa maju seperti ini. Jadi saya yakin 8 sampai 10 anggota DPR RI itu bisa. Kemudian semua DPC harus bisa mendudukan satu fraksi.

Mungkin angka-angka itu dibilang banyak orang, saya tengah bermimpi. Saya bilang, saya bukan mimpi, kalau saya pemimpi, Kabupaten Sinjai mungkin tidak seperti ini. Semua orang kan berhak mimpi, tapi tentunya tidak sekadar mimpi, karena saya sudah punya kuncinya. Jangan harap kita mengusung Prabowo menjadi Presiden RI berkoalisi dengan pertain lain. Tapi Gerindra sendiri yang harus mengusung, boleh koalisi tapi tidak ada ikatan. Kalau kita mencukupi angka itu dan daerah-daerah lain bergerak bersama seperti Sulsel, maka hal itu menjadi sesuatu yang gampang, tinggal ada kemauan bahwa ini keinginan Gerindra tanpa partai lain. Jangan sampai kita sudah berlari kencang, daerah lain tidak bisa. Makanya saya menantang DPD-DPD lain, sanggup tidak? Kalau Sulsel sudah harga mati, menjadikan Gerindra sebagai satu-satunya partai yang mengusung, tidak ada koalisi. Sehingga bila hal itu terwujud maka ada kekuatan pemerintah dan kelak Pak Prabowo sebagai presidennya bisa menjalankan program-program yang menjadi cita-citanya dan yang selama ini diidam-idamkan masyarakat. [G]

Biodata :

Andi Rudiyanto Asapa, SH, LLM

Gorontalo, 26 Mei 1967

 Jabatan:

  • Bupati Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan (2003-2007) dan (2008-2013)
  • Pimpinan Dewan Pembina/Dewan Penyantun Yayasan LBH Indonesia (YLBHI) 2005-2010
  • Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulawesi Selatan 2011 – sekarang
  • Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra, Sulawesi Selatan 2010 – 2015
  • Anggota Badan Kerjasama Kabupaten Seluruh Indonesia, Sulawesi Selatan

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 13/Januari/2012

This entry was posted in Kisah Nyata, Profil, Rekam Media and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s