[Jejak 11] Puncak Karampuang Menyimpan Kisah

Karampuang dikenal sebagai salah satu tempat wisata budaya di Kabupaten Sinjai. Panoramanya indah, belum banyak sentuhan tangan-tangan manusia. Alamnya masih asli, seperti apa adanya.

Desa adat Karampuang terletak di kaki gunung batu yang bernama sama. Masyarakat kerap menyelenggarakan upacara adat di areal desa ini. Saat seperti itu biasanya banyak wisatawan yang datang. Tak hanya masyarakat setempat, penduduk dari kabupaten lain pun acap berkunjung. Bahkan wisatawan mancanegara biasa ikut berbaur dengan masyarakat, menyaksikan prosesi upacara adat di sini.

Lasimnya, upacara adat diselenggarakan di bawah puncak Karampuang. Masyarakat yang berkunjung umumnya hanya sampai di tempat ini. Tak banyak yang beranjak hingga ke puncak. Padahal, pemandangan di puncak Karangpuang jauh lebih indah.

Keindahan itu memang tak mudah diraih. Untuk bisa mencapainya harus melintasi jalan berliku, terjal, dan licin. Tebing batu harus dipanjat. Bila tergelincir bisa berakibat fatal. Hanya orang yang bernyali berani memilih risiko itu. Rudiyanto termasuk yang sedikit itu.

Di puncak Karampuang terdapat sumber mata air. Air yang keluar dari celah batu tak pernah berkurang, apalagi kering. Konon, menurut cerita penduduk setempat, apabila batu penutup sumber air diangkat, biasanya hujan akan turun.

Kisah itu mengundang rasa penasaran Rudiyanto. Perasaan itu kuat mendorongnya untuk mencapai puncak Karampuang. Tapi bagaimana caranya? Tak banyak orang yang mau mengambil risiko menemani Rudiyanto untuk memenuhi keingintahuannya.

Akhirnya beberapa warga setempat yang sudah mengenal likuliku jalan ke puncak bersedia mengantar. Rudiyanto mengikuti langkah warga itu untuk mencapai impian. Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, puncak Karampuang akhirnya tergapai. Ia berada di atas ketinggian, tempat yang tak banyak orang bisa mencapainya.

Ia melepaskan lelah sejenak. Matanya memandang jauh, menikmati keindahan alam Sinjai dari ketinggian. Tiba-tiba matanya tertuju ke batu yang tampak basah. Pikirannya melayang, membayangkan cerita penduduk soal batu penutup sumber air.

“Barangkali ini batu penutup mata air seperti yang diceritakan masyarakat?” Ia bertanya dalam hati.

Tak mau berlama-lama menyimpan rasa penasaran, ia akhirnya menanyakan kepada pemandunya.

“Iye, itu mi batu penutup air, Puang,” jawab warga yang menemani.

Rasa penasaran kembali mengganggu pikirannya. Ia ingin membuktikan cerita masyarakat soal batu itu.

“Apakah benar kalau batu itu diangkat hujan akan turun?” hatinya kembali bertanya.

Ia lalu melangkah, mendekati batu itu. Perlahan-lahan benda padat tersebut ia geser. Benar. Tak lama berselang, gerimis turun. Bajunya basah oleh rintik hujan.

Masyarakat mempercayai, bila hujan turun saat batu penyumbat diangkat, itu pertanda baik. Orang yang melakukannya dipandang sebagai sosok yang memiliki ketulusan dan kelebihan dalam memimpin. Rudiyanto hanya tersenyum saat keyakinan masyarakat disampaikan kepadanya.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s