[Jejak 13] Ketulusan Hati Masyarakat Desa Terpencil

Mattang tak kuasa menahan haru. Perasaan itu bercampur rasa bangga. Maklum, sepanjang 70 tahun usianya, desa tempatnya bermukim tak pernah dikunjungi pejabat pemerintah setingkat bupati. Kehadiran Rudiyanto ke desanya melahirkan keharuan.

Desa tempat tinggal Mattang memang jauh hiruk pikuk keramaian dan kepadatan orang yang berlalulalang. Desa ini berada di daerah terpencil di pelosok Kabupaten Sinjai. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menjangkaunya. Selain letaknya yang jauh, sarana transportasi pun berbatas. Infrastruktur jalan memang masih belum memadai.

Kehadiran Rudiyanto ke desa ini dianggap berkah yang patut disyukuri oleh masyarakat. Rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk sambutan yang meriah dalam ukuran masyarakat desa.

“Baru kali ini saya melihat bupati datang ke kampung kami. Karena itu, wajib hukumnya bagi kami menyambutnya secara adat,” Mattang mengucapkan hajatnya dalam bahasa Bugis.

Dibuatlah upacara adat usyera dara manu mattekko tara. Penghormatan dilakukan dengan meletakkan setitik darah ayam ke jidat tamu yang dihormati, disertai doa-doa keselamatan. Proses penyambutan dipimpin oleh tetua adat.

Di hadapan Rudiyanto, Mattang kembali mengungkapkan perasaan harunya. Dia menyebut Rudiyanto sebagai seorang pemimpin yang sejati, tanpa membedakan perhatian untuk warganya yang bermukim di kota dengan rakyatnya yang ada di pemukiman terpencil.

“Tanah kelahiran kami sudah terlalu lama merindukan pijakan kaki seorang bupati. Alhamdulillah, ini sudah dimulai untuk pertama kalinya oleh Andi Rudiyanto Asapa,” ungkap Mattang dengan semangat, masih dalam bahasa setempat.

Rudiyanto tak kalah haru menerima penyambutan masyarakat di daerah terpencil itu. Dia merasakan ada ketulusan hati masyarakat dalam penyambutan yang sederhana itu. Ketulusan itu seakan menyatukan hatinya dengan masyarakat setempat.

Sejatinya, berkunjung ke desa-desa terpencil dan berdialog dengan masyarakat bukan hal baru bagi Rudiyanto. Sebelum menjabat bupati Sinjai, ia sudah kerap berada di tengah-tengah masyarakat pedesaan yang terpencil dalam kapasitas sebagai aktivis lembaga swadaya masyarsakat. Pengalaman itu pula yang ia utarakan di depan masyarakat desa itu.

“Jadi kalau hari ini saya berada di dusun terpencil, itu hal biasa bagi saya. Jangan merepotkan diri hanya untuk menyambut kehadiran saya, sebab boleh jadi saya berada di dusun ini pada waktu tertentu tanpa ada yang mengetahui,” ucapnya.

Rudiyanto menyatakan selalu ingin berada dekat dengan masyarakat. Dia ingin senantiasa melihat dari dekat kondisi pedesaan. Di pedesaan ia bisa merasakan ketulusan hati masyarakat, tanpa basa-basi. Ketulusan itu menyatukan hati dan menenteramkan jiwa, seperti ditunjukkan Mattang bersama masyarakat di desanya saat menyambut kehadiran Rudiyanto.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s