[Jejak 12] Air Mata di Pengungsian

Rudiyanto hanya bisa terdiam menatap seorang ibu yang meratap di hadapannya. Perempuan itu tak punya tempat berteduh lagi. Rumahnya hancur disapu air sungai yang meluap, menyisakan puing-puing sisa bangunan rumah panggung yang selama itu ia huni bersama keluarga. Suaminya hanyut terbawa terbawa arus deras.

Perempuan itu salah seorang korban banjir bandang disertai tanah longsor yang memperondakporandakan rumah-rumah warga di Kabupaten Sinjai. Ratusan korban meninggal dunia. Korban luka yang memerlukan pertolongan sesegera mungkin, jumlahnya lebih banyak lagi.

Masyarakat yang kehilangan tempat tinggal terpaksa harus menghabiskan hari-hari mereka di pengungsian. Penampungan warga yang tertimpa bencana hanya berlantai tanah yang lembab. Mereka berteduh di bawah tenda-tenda darurat bantuan pemerintah daerah.

Bencana alam itu yang menggerakkan hati Rudiyanto untuk segera datang ke lokasi dan melihat dari dekat kondisi korban. Ia tak ingin hanya menerima laporan perkembangan kondisi yang terjadi. Dia tak mau hanya sebatas mendengar kabar dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut.

Dia merasa tak cukup hanya sebatas memberi komando, mengkoordinir upaya penyelematan. Dorongan turun ke lapangan menyaksikan dari dekat kondisi yang ada lebih kuat memanggilnya. Dia ingin berada bersama warga, berbagi duka dengan korban yang masih selamat.

Di pengungsian Rudiyanto menemui seorang ibu bersama anak-anaknya yang hanya bisa menangis tersedu karena kehilangan suami. Kepala keluarga itu termasuk salah seorang
korban meninggal. Perempuan itu tak mampu berkata-kata lagi menyambut kehadiran bupati.

Seperti halnya korban bencana, Rudiyanto pun tak kuasa membendung perasaan duka menyaksikan masyarakatnya yang dirundung nestapa. Tak banyak kata yang bisa ia ucapkan di tengah-tengah warga korban bencana. Tak banyak harapan yang bisa ia janjikan di hadapan warga yang berduka. Yang ada di benaknya hanya sebuah keyakinan: badai pasti berlalu. Keyakinan itu melahirkan sebuah tekad, korban harus secepatnya kembali menjalani kehidupan normal.

Mata Rudiyanto berkaca-kaca di tengah ibu-ibu bersama anakanak mereka yang hanya bisa meratap menjalani kehidupan sementara di pengungsian. Perlahan-lahan tampak air bening menetes di dua sudut matanya. Sikapnya yang dikenal keras, luluh di depan ibu-ibu yang ditinggal suami dan kehilangan harta benda. Ia tak mampu membendung tetes air matanya, sebagaimana air bah yang datang menerpa pemukiman warga.

Tekad untuk segera memulihkan keadaan ia tunjukkan dalam tindakan dengan melintasi sungai yang berarus deras di Buakang, Kecamatan Sinjai Timur. Air sungai yang dipenuhi lumpur tidak merintangi niatnya untuk sampai ke desa seberang. Ia mesti menggulung celana hingga batas maksimal untuk menyeberangi sungai itu.

Dengan sekuat tenaga ia bahkan harus berjuang untuk bisa lepas dari jeratan lumpur yang menenggelamkan kakinya hingga sebatas paha. Dia ingin memastikan ancaman bukit yang ada di seberang sungai tidak menutup aliran sungai. Keinginan itu lebih kuat mendorongnya menyeberangi sungai berlumpur, tanpa banyak memikirkan keselamatan diri sendiri.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s