[Jejak 15] Unjuk Rasa Pembangunan Kantor Bupati

Pembangunan kantor bupati Sinjai di Tanassang Kelurahan Alehanoe ternyata masih menyimpan masalah. Bukan soal pembangunannya yang menjadi soal, tapi ihwal lahan di lokasi pembangunan gedung kantor baru itu. Tanpa sepengetahuan Rudiyanto, ternyata masih ada pemilik lahan di areal pembangunan gedung itu yang keberatan. Mereka tak mau melepas lahan miliknya untuk pembangunan kantor pemerintah.

Tak ada riak, tak ada aksi hingga akhirnya pembangunan gedung rampung. Proses pengerjaan berjalan mulus. Pembangunan berlangsung sesuai jadwal sehingga akhirnya Gubernur Sulawesi Selatan meluangkan waktu datang dalam seremoni peresmian.

Menjelang peresmian, rute jalan-jalan yang akan dilalui menuju ke lokasi sudah diatur. Tapi sebelum meluncur ke lokasi, diperoleh informasi ada serombongan massa yang akan beraksi. Rombongan gubernur akan dijemput unjuk rasa massa di jalan.

Warga dilaporkan akan menutup akses jalan ke lokasi. Rapat darurat kalangan terbatas segera digelar. Tak ada interupsi, tak ada debat panjang. Rapat kemudian memutuskan, rute jalan diubah. Rombongan gubernur tidak melintasi area pengunjuk rasa.

Persoalan selesai? Ternyata belum. Entah siapa yang membisiki, kabar adanya pengunjuk rasa akhirnya sampai di telinga Rudiyanto. Kabar itu ia dengar seusai upacara peresmian. Warga dikabarkan memasang spanduk di jalanan, tanda protes. Spanduk menyatakan siap mati daripada melepaskan lahan mereka untuk pembangunan kantor bupati terpampang
dengan jelas.

Mendengar kabar tersebut, Rudiyanto beranjak dari duduknya. Ditemani sopir dan ajudan, ia segera berangkat ke tempat itu, menemui pengunjuk rasa. Di lokasi dia menemukan keremunan warga mulai berkurang, tapi spanduk masih terpampang di jalanan. Ia lalu memerintahkan sopir dan ajudan menurunkan spanduk tersebut.

“Siapa yang mau mati!” serunya kepada warga yang masih berada di lokasi itu. Arah seruannya jelas, menanggapi pernyataan yang tertulis dalam spanduk.

“Yang mau mati ke sini,” dia melanjutkan.

Nada suaranya meninggi. Kalimat yang ia ucapkan jelas terdengar di tengah suasana yang hening. Tak ada yang mau angkat bicara. Semua hanya terdiam melihat spanduk diturunkan.

Ia ingin mengetahui latar belakang di balik aksi unjuk rasa. Sepengetahuan dia, proses pembangunan gedung kantor baru bupati berjalan lancar. Tidak ada masalah, termasuk soal penyelesanan lahan milik warga.

Beberapa saat berselang, warga akhirnya memberanikan diri mendekat. Mereka menjelaskan ketidaksetujuan melepaskan lahan milik mereka untuk pembangunan kantor pemerintah.

Rudiyanto menyimak penuturan warga pengunjuk rasa itu. Setelah memperhatikan kondisi lahan milik pengunjuk rasa, ia akhirnya bisa memahami keinginan masyarakat itu. Jalan tengah ditempuh. Warga tetap bisa menempati lahan milik mereka, rencana areal perkantoran pun tetap dilanjutkan. Persoalan selesai.

“Rupanya hanya soal kesalahpahaman,” ucap Rudiyanto, kemudian.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s