[Jejak 14] Mencegah Gejolak Konflik Etnis

Massa mahasiswa, pemuda, dan masyarakat asal Sinjai di Makassar tengah dibalut amarah. Sebagian melengkapi diri dengan senjata tajam. Berkumpul di sebuah tempat, mereka mengatur rencana untuk melampiaskan amarah yang membara. Rencana itu tidak main-main: menyerang kelompok etnis tertentu.

Pangkal soalnya, seorang pembantu rumah tangga asal Kecamatan Sinjai Selatan diduga meninggal karena dianiaya. Kabar yang beredar mengisahkan, penyaniayaan dilakukan oleh majikannya – keluarga dari salah satu kelompok etnis di Makassar.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus membalas.”

Massa setengah berteriak, seakan memberi komando kepada rekan-rekannya untuk segera bertindak. Amarah massa nyaris tak terbendung. Mereka tak sekadar menuntut balas, menghajar orang yang dikabarkan sebagai pelaku, tapi juga menyerang kelompok etis.

Saat itu Rudiyanto baru saja tiba di Sinjai. Malam sudah beranjak larut. Ia terus memonitor perkembangan rencana aksi masyarakat Sinjai di Makassar. Merasa keadaan mulai sulit dikendalikan, ia memutuskan berangkat ke Makassar, menemui massa yang marah.

Tiba di kota ini, ia mendatangi tempat massa berkumpul. Berada di tengah-tengah masyarakat yang berkerumun, ia minta agar tidak terhasut hingga akhirnya bertindak anarkis. Tindakan anarkis tidak menyelesaikan masalah. Tindakan semacam itu justeru dapat melahirkan masalah baru, sangat mungkin berbuntut lebih panjang.

“Korban akan kita bela. Kita akan berikan perlindungan sesuai jalur hukum,” ucapnya.

Dia menyatakan akan meminta kepolisian segera menggali kuburan korban untuk dilakukan otopsi. Ini penting untuk memastikan penyebab kematian. Ia lalu menyakinkan massa yang berkumpul dengan terus mengawal kasus ini hingga tuntas.

“Jika memang terbukti korban meninggal karena dianiaya, yakinlah, saya akan menyeret pelakunya masuk bui,” dia menegaskan.

Massa mulai tenang. Amarah yang mulai membara perlahanlahan meredub. Pengalaman puluhan tahun membela masyarakat sebagai advokat menguatkan keyakinan mereka. Sebelum menjabat bupati, Rudiyanto memang malang melintang di dunia kepengacaraan. Ia juga pernah mengetuai Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar.

Kemarahan massa di Makassar akhirnya bisa diredam, tetapi persoalan belum selesai. Massa dan keluarga korban di Sinjai masih menyimpan kemarahan. Rudiyanto menyadari itu. Kesadaran itulah yang mendorongnya bergegas kembali ke Sinjai, menemui keluarga korban.

Ia meyakinkan keluarga pentingnya outopsi untuk mendapatkan kepastian penyebab kematian. Ia minta keikhlasan keluarga dan merelakan kuburan korban digali untuk keperluan penyidikan polisi. Keluarga ikhlas. Mereka akhirnya menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara ini kepada Rudiyanto. Tak ada lagi amarah yang membara. Masalah terselesaikan tanpa konflik.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s