[Jejak 2] Pertengkaran di Sebuah Rumah Tangga

Sudah menjadi kebiasan Rudiyanto terlambat tidur malam. Biasanya, puncak malam telah lama berlalu, tapi ia belum juga memecamkan mata.

Saat-saat seperti itu, tidak jarang ia diam-diam meninggalkan rumah jabatan, berkeliling di malam hari untuk mengetahui kondisi masyarakat.

Lantaran keseringan ke luar di malam hari, Rudiyanto bahkan pernah dikejar masyarakat karena disangka mau maling. Tapi sangkaan itu kemudian berubah hormat saat ia mengenalkan diri.

Sekali waktu, tatkala jarum jam sudah menunjukkan angka pukul 03.00 dini hari, ia kembali meninggalkan rumah jabatan. Tak disengaja di sebuah rumah ia mendengar suara bersahutan.

Rasa penasaran membuatnya makin mendekatkan telinga. Ia mengambil posisi duduk di kolong rumah panggung itu. Dari dalam rumah ia mendengar pertengkaran dalam rumah tangga. Pangkal soal, pasangan suami isteri itu berada dalam posisi sulit.

Belakangan ia akhirnya mengetahui rumah itu dihuni seorang pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Sinjai, karyawannya. Mereka menghadapi dilema, apakah harus membayar uang sekolah anaknya atau membayar ongkos rumah sakit untuk anaknya yang lain.

“Dari situ saya berpikir, kenapa itu terjadi kepada masyarakat saya?” kali ini ia kembali membatin.

Hari berikutnya Rudiyanto memanggil kepala dinas dan semua guru di Sinjai. Kepada pejabat pendidikan yang ada di hadapannya, ia bertanya, “Berapa kebutuhan dana pendidikan di Sinjai?”

Laporan disampaikan. Data-data dipaparkan setelah dikalkulasi dengan jumlah sekolah, guru, dan siswa, diperoleh data kebutuhan pendidikan dalam setahun antara Rp 5-6 miliar.

Angka ini, dalam bayangan Rudiyanto, tidak terlalu besar. Dia berpandangan, meski Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sinjai tidak terlalu besar, tapi kalau ada kemauan yang kuat, kebutuhan itu bisa penuhi.

Akhirnya diputuskan, dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dipergunakan untuk membiayai pendidikan. Hal yang sama dilakukan untuk membiayai kesehatan masyarakat dengan penerapkan pola subsidi. “Ternyata semua itu berjalan dan tidak mempengaruhi program-program lain,” dia menuturkan.

Itulah yang dirasakan masyarakat Sinjai hingga nenjelang akhir masa jabatannya yang kedua sebagai bupati Sinjai. Tak banyak orang tahu, gagasan itu sedikit banyaknya terinspirasi dari pertengkaran dalam sebuah rumah tangga.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s