[Jejak 9] Naik Motor Tengah Malam

Sudah menjadi kebiasaan Rudiyanto terlambat tidur di malam hari. Jarang ia memejamkan mata sebelum puncak malam berlalu, saat hari mulai berganti. Di saat-saat seperti itu, acap kali ia memanfaatkan waktu dengan berkeliling Kota Sinjai mengendarai sepeda motor di kala kota mulai sepi oleh lalu lalang kendaraan.

Sekali waktu ia melihat sepeda motor Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai diparkir di halaman rumah jabatan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00. Diam-diam Rudiyanto mengambil kunci kontak kendaraan roda dua itu. Tanpa ditemani pengawal, ia berkeliling melihat suasana kota. Dia berkendaraan sendirian dengan muka tertutup helm.

Di tengah jalan ia berpapasan dengan petugas Polisi Lalu Lintas yang sedang berpatroli. Petugas itu membuntuti dari belakang. Saat kendaraan mereka berdekatan, petugas memintanya berhenti. Rudiyanto mengikuti perintah petugas tersebut.

Setelah ia membuka helm penutup kepala, petugas baru menyadari, orang yang dicegatnya ternyata bupati.

“Maaf, Pak. Saya kira siapa?” polisi meminta maaf.

“Tidak apa-apa. Saya senang, berarti kamu sudah bekerja dengan baik,” jawab Rudi, sambil menepuk pundak lawan bicaranya.

Kali lain, ia kembali melakukan hal serupa, mengendarai sepeda motor keliling kota di larut malam. Tengah berkendara, ia melihat ada pengendara lain melaju kencang di jalan yang sepi.

Samar-samar ia melihat nomor kendaraan itu berplat merah.

“Itu kan motor dinas,” katanya dalam hati.

Didorong oleh rasa penasaran, ia ikut mempercepat laju kendaraan. Ia mengejar sepeda motor yang ugal-ugalan itu. Setelah mendekat, pengendara diminta berhenti.

Ternyata benar, itu motor dinas seorang aparatur desa yang dipakai anaknya dengan ugal-ugalan berkendara. Remaja itu lalu digiring ke rumah jabatan. Kendaraan diperintahkan dititip.

Ayahnya diminta datang mengambil kendaraan tersebut.

Entah takut atau merasa bersalah, kendaraan dinas itu lama terparkir di halaman rumah jabatan. Motor dinas itu baru datang diambil setelah lebih sebulan tertahan.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s