[Jejak 8] Anak Bersisik di Tepi Jalan

Sekali waktu Rudiyanto berkunjung ke sebuah desa di Kecamatan Sinjai Borong. Ditemani isterinya, dr Felicitas Tallulembang Asapa, bupati berniat mengikuti hajatan, peresmian Rumah Singgah di Taman Hutan Rakyat Ande Latief. Taman ini akan dijadikan tempat wisata bagi rakyat Sinjai.

Seperti biasa, saat berkunjung ke desa-desa, Rudiyanto senantiasa berusaha menyempatkan diri mampir di rumah-rumah penduduk. Ia selalu ingin melihat langsung kondisi masyarakat. Menyapa warga dan mendengarkan harapan atau keluhan mereka sudah menjadi kebiasaannya.

Dalam perjalan ke Kecamatan Sinjai Borong kali ini, ia melakukan hal yang sama. Saat kendaraan tengah melaju di jalan kampung, ia sontak memerintahkan sopir menepikan mobil. Kendaraan yang ditumpanginya berhenti di tepi jalan. Iring-iringan kendaraan yang menyertai dalam perjalanan ini ikut berhenti.

Turun dari mobil, Rudiyanto mampir di sebuah rumah. Di depan pintu rumah ia berucap salam. Dari balik pintu muncul pemilik rumah. Ia mempersilakan tamunya masuk. Rudiyanto melangkahkan kaki, masuk ke dalam rumah. Felicitas menyertai langkahnya masuk ke dalam rumah itu, diikuti sejumlah pejabat Pemerintah Daerah Sinjai yang menyertai dalam perjalanan ini.

Saat berbicara dengan pemilik rumah, tanpa sengaja ujung matanya tertuju ke sosok anak kecil. Rudiyanto tersentak. Dia melihat ada keanehan pada diri anak itu. Tidak seperti anak-anak normal lainnya, kulit anak itu bersisik. Kepala desa dan camat yang ikut masuk ke dalam rumah mengaku tidak mengetahui ada warganya yang menderita penyakit seperti itu.

Rudiyanto mendekati bocah berusia belasan tahun yang malang itu. Ia bersama isteri duduk mengapit. Tanpa merasa jijik, Rudiyanto bersama isteri menyentuh kulit bersisik anak malang penderita penyakit kulit itu. Tak ada rasa takut tertular.

 Setelah berdialog dengan orang tua, Rudiyanto memperoleh informasi, keluarga tidak pernah melakukan upaya medis untuk mengobati penyakit anaknya. Anak itu lebih banyak mengurung diri di dalam rumah. Amat jarang ia mengisi hari-harinya bermain dengan teman sebayanya. Rasa malu membuatnya enggan ke luar rumah.

Sebagaimana umumnya masyarakat desa, pengobatan medis kerap hanya menjadi pilihan terakhir dalam upaya pengobatan. Lebih penting lagi, ada alasan klasik dalam sebuah realitas: tak punya biaya.

Dengan penuh kesabaran Rudiyanto membujuk orang tua anak itu agar bersedia memberikan pengobatan medis di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) terdekat. Sebagai seorang dokter, Felicitas pun menjelaskan pentingnya pengobatan dan akibat lebih lanjut yang mungkin timbul tanpa secepatnya dilakukan tindakan medis.

Orang tua anak itu hanya bisa menganggukkan kepala. Sesekali ia menyela dengan rasa hormat dan berucap dalam bahasa Bugis, “Iye, Puang – iya, Pak.”

Singkat kisah, anak penderita penyakit kulit itu akhirnya memperoleh pengobatan medis di Puskesmas. Sejak itu pula bupati memerintahkan aparat desa untuk lebih peduli dengan warganya, tidak membiarkan hal semacam ini terjadi di desa masing-masing. Rudiyanto selalu berpesan, “Mereka yang tidak mampu, jadi tugas kita memberikan bantuan dan pelayanan yang sebaik-baiknya.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to [Jejak 8] Anak Bersisik di Tepi Jalan

  1. marbot says:

    Subhanallah.. semoga kebiasaan ini terus dilakukan dan menular kepada para pemimpin yang ada negeri ini… mulai dari aparat desa/kelurahan, bupati/walikota, gubernur hingga presiden dan tentunya kita sebagai pribadi-pribadi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s