[Jejak 6] Tanah Retak, Masyarakat Mengungsi

Bencana itu datang menyapa sebuah kampung di Sinjai. Air menggenang di pemukiman warga. Banjir menenggelamkan lahan pertanian masyarakat. Tanah retak, akses jalan terputus. Warga di kampung itu panik menghadapi situasi tersebut.

Tak banyak pilihan bagi masyarakat untuk bisa keluar dari situasi yang mendera. Jalan yang paling aman harus segera keluar dari kampung itu. Mereka terpaksa meninggalkan kediaman masing-masing, mengungsi ke tempat yang masih ramah dari bencana.

Fasilitas umum yang luput dari genangan air menjadi tempat penampungan sementara. Gedung-gedung sekolah yang berada di lokasi ketinggian pun disesaki penduduk. Masyarakat korban bencana menyelamatkan diri bersama keluarga di lembaga pendidikan ini. Anak-anak sekolah terpaksa diliburkan dalam jangka waktu tertentu.

Rudiyanto tak mau hanya berdiam diri, mendengarkan perkembangan bencana dari kantor bupati atau rumah jabatan. Menerima laporan dari staf atas kejadian itu dirasakan tidak cukup. Dia merasa harus hadir tempat itu, melihat langsung kondisi bencana. Ia ingin ikut merasakan derita yang dialami masyarakat di kampung itu.

Ia harus segera berangkat ke lokasi bencana. Tapi tidak mudah menjangkau lokasi. Jalan-jalan kampung yang retak tak memungkinkan kendaraan yang ditumpanginya sampai ke tujuan. Kendaraan roda empat sama sekali tak bisa melintas. Sepeda motor pun tak bisa lewat.

Apa boleh buat, dia harus berjalan kaki. Celana mesti digulung agar lumpur tak menempel hingga menambah beban dalam melangkah. Ditapakinya jalan-jalan becek dalam jarak beberapa kilometer. Kelelahan tetap ia rasakan, tetapi semangat mencapai tujuan lebih kuat mendorongnya. Ia ingin melihat langsung kondisi bencana.

foto dok. Setkab Sinjai

Tubuhnya basah oleh keringat ketika tiba di tempat tujuan. Ia segera memerintahkan camat setempat dan sejumlah staf yang menyertainya untuk menyelamatkan warga. Ia ikut dalam upaya penyelematan itu, membantu warga yang membutuhkan pertolongan.

Rudiyanto sampai menghabiskan malam di pengungsian bersama masyarakat yang tertimpa bencana. Dia terus mengatur kebutuhan pengungsi sehingga warga bisa merasa nyaman di tengah derita yang mendera. Rudi menjadi bagian dari warga yang tertimpa bencana, ikut merasakan derita mereka.

Hari berganti, ia baru memunggungi lokasi bencana. Camat dan aparat desa diperintahkan terus memberi pertolongan hingga bencana berlalu. Jalan-jalan kampung yang becek kembali ditapakinya.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s