[Jejak 5] Pencuri Sapi di Tengah Malam

Sekali waktu Rudiyanto menerima tamu di malam hari. Seperti biasanya, tamu yang datang di luar jam kantor diterima di rumah jabatan bupati. Kali ini Kepala Polisi Resort (Kapolres) Sinjai yang datang bertandang. Pembicaraan tak sebatas masalah keamanan, tapi juga kemasyarakatan.

Saat pembicaraan tengah berlangsung, tiba-tiba seorang anggota polisi menyela. Polisi itu menghampiri komandannya. Ia menyampaikan laporan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Polisi itu melaporkan adanya pencurian sapi milik masyarakat di sebuah desa.

Rudiyanto sejenak terdiam, menjadi pendengar yang baik. Ia terus menyimak pembicaraan atasan-bawahan itu. Usai anggota polisi itu menyampaikan laporan, Rudiyanto sontak berseru, “Kita kejar!”

Dia kemudian minta ditunjukkan lokasi tempat kejadian. Ia bergegas meluncur ke desa yang disebutkan tanpa memikirkan risiko ancaman keselamatan diri. Kapolres dan anggota polisi lainnya ikut dalam pencarian. Sampai di lokasi situasi sudah aman. Tidak ditemukan adanya tindak kriminal.

Rencana pencurian sapi ternyata urung terlaksana. Binatang peliharaan masyarakat aman-aman saja. Tak ada tindakan pencurian, tak ada kejadian yang merugikan masyarakat. Dilandasi tanggung jawab kepada masyarakat, ia nekad mengejar pencuri yang bisa dipastikan selalu melengkapi diri dengan senjata tajam saat melakukan aksi pencurian. Rasa tanggung jawab mengalahkan risiko ancaman jiwa yang mengintai.

Dia menyadari, masalah keamanan masyarakat urusan polisi. Pencurian adalah tindakan kriminal. Tindakan semacam itu menjadi tanggung jawab aparat kepolisian. Akan tetapi ia juga sadar, masyarakat harus dilindungi dari ancaman semacam itu. Ia tak ingin warganya dirugikan oleh ulah penjahat.

Sebagai pemimpin pemerintahan, ia merasa ikut bertanggung jawab atas ketenteraman masyarakat. Ia tak ingin pencurian merebak di wilayahnya. Batinnya berkata, “Ini tidak boleh dibiarkan.”

 Kata hati itulah yang meringankan langkahnya, bergegas meluncur ke desa lokasi yang dilaporkan terjadinya pencurian sapi di tengah malam. Entah ada kaitan dengan sikap Rudiyanto yang cepat merespon kejadian tanpa banyak memperhitungkan risoko atau tidak, kenyataannya, sejak itu tak ada lagi laporan pencurian sapi masyarakat di Sinjai.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s