[Jejak 4] Truk Bermuatan Kayu di Jalan Kampung

Malam belum datang menyapa ketika Andi Rudiyanto Asapa berkunjung ke sebuah desa. Hari sudah petang, masyarakat menyelesaikan kegiatan keseharian. Senja sudah menjelang.

Melintasi jalan kampung, ia berpapasan dengan sebuah truk yang dipenuhi muatan kayu. Kayu-kayu itu berupa potongan dari batang-batang pohon yang baru ditebang. Ujung di setiap potongan kayu masih tampak menyisakan getah pohon.

Truk berjalan lambat, tak ubahnya seekor keong yang merayap di rumput basah. Suara mesin kendaraan terus menderu, asap mengepul dari cerobong knalpot. Kontras dengan laju kendaraan yang berjalan lambat, layaknya seorang kakek bertongkat tengah meniti satu demi satu anak tangga.

Rudiyanto tersentak melihat kendaraan berukuran besar keluar dari kawasan hutan. Pikirannya berkecamuk. Ia membayangkan ada yang tak beres dengan kendaraan sarat muatan kayu ini.

Didorong rasa ingin tahu yang tinggi, ia segera meminta sopir menghentikan mobil yang ditumpanginya. Pengemudi truk diminta melakukan hal yang sama. Sopir itu diperintahkan menepikan kendaraannya agar tidak menutup jalan.

Setelah berbincang dengan pengendara truk, muncul kecurigaan dalam diri Rudiyanto. Batinnya berbisik, “Ini illegal loging. Praktik semacam ini tidak bisa dibiarkan!”

Merasa informasi yang diperoleh dari pengendara truk sudah cukup, dia akhirnya membiarkan kendaraan itu meneruskan perjalanan. Ditepuknya pundak sopir truk sembari berseru dalam bahasa Indonesia dialek Makassar, “Jalan moko, silakan jalan.”

Hari berganti. Di kantor Pemerintah Daerah Sinjai, ia memanggil kepala dinas yang bertanggung jawab dalam soal pengelolaan hutan. Rudiyanto mengisahkan pertemuannya dengan truk yang sarat muatan kayu. Dia mengkonfirmasi pengakuan sopir truk yang disampaikan kepadanya dalam perbicangan di jalan kampung.

Dari pembicaraan dengan salah satu pejabat di Kantor Pemda Sinjai itu dia menyimpulkan, dugaannya terjadi illegal loging sulit terbantahkan. Tak ada pilihan lain. Siapa yang menabur benih, dia yang berhak memetik buah. Tanggung jawab terjadinya illegal loging sudah jelas. Apa boleh buat, kepala dinas itu terpaksa harus kehilangan jabatan.

Tak ada diskusi, tidak dibutuhkan lagi upaya pembelaan diri. Tanpa perlu menunggu waktu berlalu percuma, Rudiyanto mengambil keputusan tegas. Saat itu juga penanggung jawab terjadinya illegal loging di kabupaten yang dipimpinnya diberhentikan sebagai kepala dinas.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s