[Jejak 3] Ibu-ibu Mencari Kutu

Kali lain, Rudiyanto berkunjung ke desa-desa. Sebagaimana biasa, langkah itu dilakukan karena ia ingin melihat masyarakat Sinjai dari dekat. Ini memang sudah menjadi kebiasaan Rudiyanto. Ia tak hanya ingin duduk di ruang berpendingin di dalam kantor, menunggu laporan staf teknis.

Dalam berbagai kunjungan ke desa, ia kerap melihat sejumlah ibu-ibu duduk tangga rumah panggung. Sekali waktu ia mampir di sebuah rumah. Kepada ibu-ibu itu ia bertanya, “Ibu sedang apa?”

Dengan lugu ibu-ibu yang dijumpainya menjawab sekenanya. “Mencari kutu,” ibu-ibu itu menjawab hampir bersamaan.

Rupanya, aktivitas itu mereka lakukan sembari bercerita tak karuan. Para ibu itu lebih banyak menggosip, membicarakan ulah dan perilaku orang lain.

Rudiyanto terdiam sejenak. Dia lalu berkata, “Ibu bisa berhenti sebentar?”

Para perempuan itu mengikuti permintaan tersebut. Rudiyanto kemudian minta mereka menceritakan masalah keseharian yang dihadapi ibu-ibu rumah tangga itu sehingga lebih banyak menghabiskan waktu mencari kutu dan gosip.

Setelah para ibu-ibu itu usai mengungkapkan masalahnya, Rudiyanto balik bertanya, “Mau tidak meninggkatkan pendapatan keluarga?”

Pertanyaan itu, tentu saja disambut dengan anggukan kepala. Serentak para ibu itu menjawab, “Mau,” – keinginan yang sangat wajar.

Rudiyanto lalu memberikan kiat agar mereka memiliki aktivitas yang produktif, tidak sekadar menghabiskan waktu mencari kutu dan bergosip.

 “Saya kasih caranya,” ucapnya.

Dia lalu mengungkapkan apa yang ia lihat selama dalam perjalanan. Dia bilang, “Tadi saya lewat di kuburan. Di sana ada pohon jambu batu. Tolong ambilkan 20 – 30 biji dan bawa ke sini.”

Ibu-ibu tersentak, kaget. Tapi Rudiyanto terus mendorong untuk segera bertindak, mengikuti permintaannya. Boleh jadi dalam hati mereka bertanya, “Untuk apa buah jambu batu? Ambil di kuburan lagi.”

Rudiyanto tidak memberikan jawaban atas kemungkinan munculnya pertanyaan semacam itu. Dia hanya terdiam melihat ibuibu itu bergegas, mengikuti permintaannya. Jambu batu yang diminta akhirnya terkumpul. Jumlahnya melebihi permintaan.

Ibu-ibu itu sejenak kembali bertanya-tanya, tapi hanya dalam hati. Tak ada yang mau angkat bicara. Kebisuan berlalu setelah Rudiyanto kembali meminta buah yang sudah terkumpul direndam air, lalu dipotong tipis-tipis.

Apa yang terjadi? Buah yang dipotong tipis berubah menjadi keripik. “Saya minta mencicipi, ternyata mereka bilang enak. Padahal itu masih utuh, belum diberi penambah rasa,” tuturnya, mengenang.

Kebetulan, cerita Rudiyanto, di desa itu penghasil madu. Usai mencicipi keripik, ibu-ibu itu ditanya adakah di antara mereka yang menyimpan madu di rumah?

Gayung bersambut, di rumah tempatnya singgah tersedia dua botol madu. Ia minta satu botol. Madu yang ada di dalam botol dikeluarkan sedikit, lalu dicampur dengan potongan jambu batu. Hasilnya dicoba, ternyata lebih enak. Rudiyanto pun berseru, “Kenapa ini tidak bisa dikerjakan?”

Sejak itu, buah yang semula tak diperhatikan oleh masyarakat, menjadi bermakna. Buah itu bernilai ekonomis. Hampir tak ada lagi kegiatan mencari kutu. Tak ada lagi aktivitas mencari kutu di tangga rumah panggung warga. Di desa itu telah terbentuk kelompok usaha home industry.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s