[Jejak 10] Kardus Mineral Berisi Mie Instan

Ketika terjadi kebakaran hutan di Gunung Perak di Kecamatan Sinjai Barat, seperti biasa, Rudiyanto bergegas meluncur ke lokasi kebakaran. Medan yang cukup berat tak merintangi langkahnya. Jalan kaki sejauh tujuh kilometer melintasi semak belukar tidak mematahkan semangatnya memadamkan nyala api.

Ia tentu tidak sendirian menapaki jalan pendakian dari kaki Gunung Perak. Tidak kurang dari 20 staf menyertai. Tubuhnya yang ringkih membuat kakinya lebih enteng berjalan, meninggalkan para staf yang rata-rata berusia lebih muda, hingga jauh ke belakang.

Tiba di lokasi, Rudiyanto mengarahkan langsung para staf yang menyertai untuk segera melakukan upaya pemadaman. Beruntung, nyala api tak melebar ke mana-mana. Kebakaran hanya terjadi di beberapa titik sehingga api lebih mudah dipadamkan.

Kebakaran di kawasan hutan akhirnya bisa diatasi, tapi giliran rasa haus yang datang mendera. Kelelahan pun mulai dirasakan. Rudiyanto bersama rombongan memilih istirahat sejenak sebelum kembali melintasi jalan yang menurun ke kaki gunung.

Lantaran terburu-buru ingin memadamkan api, ternyata tak seorang pun yang berpikir membawa air minum. Tak peduli dengan rasa haus, dengan santai ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku bajunya. Disulutnya rokok itu sembari berseru, “Tak ada air, rokok pun jadi.”

Salah seorang kepala dinas kemudian berinisiatif memerintahkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) turun mencari air minum. Dengan bergegas petugas itu mengikuti perintah atasannya. Beberapa saat berselang, ia datang dengan membopong satu kardus air mineral. Semuanya lega, keceriaan tampak di wajah mereka, membayangkan rasa haus segera teratasi.

Setelah kardus dibuka, ternyata isinya tidak seperti yang dibayangkan. Kardus mineral bukan berisi air minum, melainkan mie instan. Apa boleh buat, semuanya kecewa. Kekecewaan berbaur dengan perasaan dongkol dan geli. Tawa pun lepas, hampir bersamaan.

Kepala dinas yang memerintah petugas Satpol PP mengambil air minum tak bisa berkata banyak. Dia hanya bisa menegur karena orang yang ia perintahkan tidak memperhatikan lebih dulu isi kardus sebelum membopongnya. Masih dengan tawa yang belum reda, ia berkata dalam bahasa Bugis, “Magai na de’ muitai loyo, kenapa tidak dilihat dulu?”

Kondisi seperti ini tidak sekali dua kali dirasakan Rudiyanto saat bersama rombongan melakukan peninjauan di desa-desa. Orang-orang yang selalu menyertai dalam bepergian sudah memahami betul wataknya yang tak mau merepotkan banyak orang, termasuk kepada masyarakat. Sama pahamnya mereka, ada satu hal yang tidak bisa terlupakan. “Yang penting, jangan lupa bawa rokok. Itu lebih penting dari air putih,” seorang mantan ajudan mengungkapkan kebiasaan Rudiyanto pada sebuah kesempatan.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s