[Jejak 1] Bertemu Anak Pengembala

Tahun 2003 Andi Rudiyanto Asapa beralih profesi. Panggilan tugas membawanya ke Sinjai, sebuah kabupaten sekitar 200 kilometer dari Makassar, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Panggilan itu memaksanya harus meninggalkan kebiasaan mengenakan jubah hitam saat berada di ruang sidang pengadilan sebagai pengacara. Sejak itu Rudiyanto menjadi bupati, meninggalkan profesi lawyer yang puluhan tahun digelutinya.

Terbiasa bersentuhan dan mendengar nurani masyarakat kecil sejak memimpin Lembaga Bantua Hukum (LBH) Makassar, Rudiyanto pun merasa tak canggung turun ke desa-desa. Itulah yang selalu ia lakukan. Langkah itu terus ia lakoni hingga menjelang pengujung dua periode masa jabatannya pemimpin kabupaten itu.

Saat melakukan perjalanan ke desa-desa di bulan-bulan awal menjabat bupati, ia menemukan seorang anak usia sekolah yang sedang mengembala dan membajak di sawah. Rudiyanto tersentak melihat belia berusia belasan tahun itu berada di sawah. Berbaju kumal, kulit anak itu kelihatan menghitam dipanggang sinar matahari. “Ini kan jam sekolah, tapi kenapa anak itu berada di sawah?” ia bertanya dalam hati.

Sontak Rudiyanto minta kendaaran dihentikan. Turun dari mobil, ia segera menghapiri anak pengembala itu. Panas matahari yang menyengat tak ia hiraukan. “Setelah saya tanya kenapa tidak sekolah, orang tuanya bilang tidak ada biaya,” Rudiyanto mengisahkan pengalamannya itu pada sebuah kesempatan.

Rudiyanto tak memberi janji kepada keluarga petani itu. Tangan orang tuanya ia jabat, kepala anak belia itu ia belai. Rudiyanto lalu melanjutkan perjalanan. Di atas kendaraan ia membisu, tak banyak bicara. Batinnya bergolak.

Ia membayangkan bagaimana nasib anak itu di masa depan. Ia meyakini anak pengembala itu tidak sendirian. Rudiyanto memastikan masih banyak anak-anak usia sekolah di Sinjai bernasib seperti itu.

Sejenak kemudian Rudiyanto tertekad dalam hati. “Ini tidak bisa dibiarkan! Anak-anak di Sinjai harus punya kesempatan bersekolah.”

Tapi bagaimana caranya? Pikiran Rudiyanto kembali bergolak. Beberapa hari berselang, ia mengumpulkan aparatnya. Data dan angka digelar. Anggaran dan peruntukannya dihitung. Setelah memelototi detail rencana kerja, ia menemukan celah. Program yang dianggap tidak urgen dicoret. Program untuk pendidikan menjadi prioritas.

Tak lama berselang, Pemerintah Kabupaten Sinjai mengeluarkan kebijakan, tak ada beban biaya untuk anak sekolah. Sekolah digratiskan – sebuah langkah terobosan berani yang belum banyak dilakukan oleh pemerintah daerah lainnya di Indonesia kala itu.

* Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku ADVOKAT JADI BIROKRAT Jejak Langkah Andi Rudiyanto Asapa yang ditulis oleh wartawan senior Burhanuddin Bella.

This entry was posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s