Mental Kesatria Garuda-Na

Sikap kesatria sejati kerap ditunjukkan Andi Rudiyanto Asapa dan Andi Nawir Pasinringi. Dan memang, mental kesatria telah melekat pada dua sosok petarung ini. Sikap itu kembali ditunjukkan pasangan Garuda-Na usai diputuskannya ketetapan Komisi Pemilihan Umum Daerah Sulawesi Selatan mengenai pemenang Pemilikada Sulsel 2013 Kamis (31/1) malam. Tak lama berselang, keduanya mendatangi pasangan gubernur terpilih. Berikut beritanya:

Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel Andi Rudiyanto Asapa-Andi Nawir Pasinringi menyatakan bersiap akan mengajak Ilham Arief Sirajuddin-Aziz Qahhar Mudzakkar untuk kemudian menemui pasangan gubernur terpilih Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang.

“Sebagai Kakak saya akan mengajak Ilham-Aziz untuk menemui Syahrul-Agus. Pilgub Sulsel sudah usai dengan semuanya juga harus diakhiri dengan baik terutama menjaga tali persaudaraan,” kata Rudiyanto didampingi wakilnya Andi Nawir saat berkunjung ke rumah jabatan gubernur Sulsel, Kamis (31/1) sekitar pukul 21.00 wita.

Dia mengatakan, kunjungannya ke rujab gubernuran di Jl Jenderal Sudirman, malam tadi untuk bertemu dengan Syahrul-Agus untuk memberikan ucapan selamat kepada pasangan nomor urut 2 sebagai gubernur dan wakil gubernur Sulsel terpilih berdasarkan penetapan KPU Sulsel.

Dia menilai apa yang menjadi riak-riak selama dalam proses pelaksanaan pilgub merupakan sebuah dinamika politik. Namun pilgub Sulsel sudah selesai. Sehingga marilah mengakhiri pesta demokrasi ini dengan cara saling merangkul dan bersama-sama untuk meudian membangun Sulsel jauh lebih baik kedepannya.

Ditanya terkait dengan keinginannya untuk mengajak Ilham Aziz menemuai Syahrul-Agus, Bupati Sinjai dua periode ini mengatakan, bahwa malam ini juga keduanya akan ditemui di kediamannya.

“Marilah kita kembali bersama serta tetap menjaga tali persaudaraan. Jangan karena kekalahan yang kita alami semuanya tidak kondusif. Justru mari kita secara bersama-sama membangun sulsel kedepannya untuk semakin baik dan masyarakat semakin sejahtera,” ujarnya.

Namun ditanya terkait dengan hasil rekapitulasi perhitungan suara oleh KPU Sulsel yang menetapkan pasangan Sayang jilid 2 keluar sebagai pemenang.

Ketua Partai Gerindra Sulsel ini menerima dengan legowo apa yang sudah menjadi keputusan mutlak pihak KPU. ”Semuanya sudah kami terima termasuk apa yang sudah menjadi keputusan final penyelenggara pemilu,” tambahnya mengaku akan mendukung sepenuhnya apa yang sudah menjadi program kerja gubernur terpilih periode 2013-2018.

Sementara ditanya menyangkut adanya kandidat tertentu yang belum puas menerima kekalahan ini. Kata Rudi, dirinya akan mengajak kandidat tersebut untuk menerima secara legowa apa yang sudah menjadi keputusan final KPU Sulsel.

Rudi menambahkan, pihaknya juga sangat menyesalkan adanya gesekan yang terjadi sore tadi. ”Sekali lagi pilgub sudah selesai. Dan mari kita sudahi semuanya,” tandas Rudi.

Sementara Syahrul Yasin Limpo yang ditemui secara terpisah mengapresiasi atas kedatangan Rudi-Nawir ke rujab malam ini. ”Yang jelas tidak ada yang kalah dan menang yang menang itu adalah rakyat. Sikap yang ditunjukkan Rudi-Nawir merupakan pembelajaran politik yang baik untuk masyarakat,” kata Syahrul mengaku sampai detik ini Ilham-Aziz belum memberikan ucapan selamat kepda dirinya atas kemenangan ini.

Sumber: BeritaPrima.com

Berita yang sama juga dikabarkan beberapa harian lokal Sulsel lainnya. Salah satunya tampak dalam foto yang diabadikan oleh media lokal Fajar, seperti pada gambar berikut:

Posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata, Pandangan, Pilgub Sulsel, Rekam Media | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Pesan Prabowo Subianto untuk Rakyat Sulawesi Selatan

Ajang Pemilihan Umum Kepala Daerah (pemilukada) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan yang bakal digelar Selasa, 22 Januari 2013 tak luput dari perhatian khusus Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Dalam kesempatan ini, Calon Presiden dari Partai Gerindra ini dengan khusus membuat status di akun pribadi facebook-nya, untuk mengingatkan warga Sulawesi Selatan.

Selamat siang. Sahabat, besok adalah hari yang penting bagi saudara-saudara kita yang tinggal di Sulawesi Selatan. Besok, 22 Januari 2013, adalah hari pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan 2013-2018.

Pada beberapa bulan terakhir ini, saya telah berkeliling Sulawesi Selatan untuk berkampanye bersama bung Rudiyanto Asapa dan bung Andi Nawir. Mereka maju sebagai calon dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)

Video profil kandidat: http://youtu.be/ov-74R44BLk

Saya percaya, jika mereka mendapat kepercayaan rakyat, mereka dapat menjalankan pemerintahan yang bersih, transparan, jujur dan profesional.IMG_9958

Komitmen saya: Jika mereka tidak memenuhi janji kampanye, jika mereka korupsi, saya yang akan mimpin demonstrasi untuk menurunkan mereka dari jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur.

Jika sahabat memiliki teman, kerabat, keluarga di Sulawesi Selatan, saya mohon bantuan sahabat untuk mengajak relasi sahabat untuk mengenal jejak rekam pasangan “Garuda-Na” dan untuk pergi ke TPS besok pagi.

Sumber: fb PrabowoSubianto

Posted in Pandangan, Pilgub Sulsel | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Andi Nawir Pasinringi, Sejak Dulu Dekat dengan Rakyat

Di balik kesederhanaannya, pamor Andi Nawir Pasinringi sebagai pemimpin kharismatik masih begitu memancar. Rekam jejak perjalanan hidup dan kehidupannya sebagai seorang pamong praja tertoreh begitu mendalam di masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Pinrang. Ia kerap tampil ke muka, melayani, menyelami langsung kehidupan masyarakat sejak dipercaya sebagai kepala desa, camat hingga bupati.

Langkah serupa ia lakoni ketika ia duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Nawir –yang pernah menjabat bupati Pinrang selama dua periode ini— tetap menjadi sosok yang sederhana dan bersahaja. Bahkan kendati kini ia maju sebagai calon Wakil Gubernur Sulsel mendampingi Andi Rudiyanto Asapa, Nawir masih tetap mengaku sebagai orang biasa dari desa yang acap turun ke sawah bercengkrama dengan para petani.

“Saya ini orang desa. Jadi ya, sehari-harinya biasa ke sawah. Saya juga sering memancing ikan di empang bersama teman,” ujar pria kelahiran Pinrang, 17 Agustus 1949 ini.

Nawir mengaku tak bisa melepaskan dirinya dengan hal-hal yang berbau pertanian. Bahkan ia kerap berupaya merealisasikan apa yang dibutuhkan para petani, saat dia menjabat bupati Pinrang. Pun ketika duduk di DPRD, ia pun getol memperjuangkan nasib para petani dan membantu mereka melalui anggaran. Tak lain tak bukan, yang dilakukannya itu sebagai rasa terima kasih sekaligus wujud pengabdian pada bidang yang sudah membesarkannya dari sekadar seorang anak desa hingga menjadi pejabat berpengaruh di Sulsel.

Ketegasan dan keberaniannya sebagai petarung sejati tak diragukan lagi. Tak heran bila ia pun disegani baik kawan maupun lawan politiknya. Bahkan ia rela meninggalkan kursi empuknya di gedung parlemen Sulsel. Termasuk partai politik yang ia besarkan dengan susah payah sebelumnya, ketika koleganya Andi Rudiyanto Asapa meminta untuk mendampinginya dalam pemilukada Sulsel 2013. Baginya, untuk menjadi orang besar di Sulsel tidak perlu mengendarai partai besar.

“Saya menerima pinangan Rudiyanto karena panggilan hati. Boleh saja orang mengatakan saya tidak ada apa-apanya, tapi nanti saja kita lihat. Saya maju sebagai calon wakil gubernur karena saya siap menang,” kata pasangan cagub nomor urut 3 ini.

Kebiasaan lamanya bercengkrama dengan masyarakat terbawa ketika ia harus mensosialisasikan diri dan program Garuda-Na dalam ajang pemilukada Sulsel yang bakal digelar 22 Januari mendatang. Nawir melakukan sosialisasi dari kolong rumah ke kolong rumah berikutnya. “Tiap hari saya melakukan sosialisasi, saya lakukan ini dengan cara dari kolong ke kolong, begitu pula yang dilakukan pasang saya, Andi Rudiyanto Asapa yang punya kebiasaan sama,” ungkap lulusan Institut Ilmu Pemerintahan, Jakarta angkatan 1982 ini.

Baginya, cara sederhana ini tepat sasaran dalam menyerap aspirasi dari masyarakat, meski tak memperlihatkan gegap gempita, atau meriahnya seremonial yang berbiaya besar. Dalam kesempatan itulah Nawir meyakinkan masyarakat bahwa Garuda-Na tidak memberi janji yang muluk-muluk. “Kami hanya menginginkan layanan publik baik kesehatan dan pendikan gratis itu bisa nyata, dan mencapai 100 persen,” terang Nawir saat memaparkan kehadiran Garuda-Na yang menawarkan perubahan untuk Sulsel yang lebih baik lewat konsep program Sulsel Tampan (Terdepan, Mandiri dan Mapan).

Nawir sendiri mengawali karir sebagai Kepala Desa Paria pada tahun 1976, kemudian ditugasi sebagai camat di Kecamatan Cempa dan Watang Sawitto, masing-masing selama 5 tahun. Sebelum menduduki posisi puncak di Kabupaten Pinrang sebagai bupati selama 10 tahun, ia pun sempat menduduki jabatan strategis di tanah kelahirannya.

“Kalau memang menurut masyarakat saat saya memimpin tidak memihak ke rakyat maka jangan mi pilih saya. Tapi kalau ada yang baik, ingat-ingat tong ki’ karyaku,” kata penerima Satya Lencana Wirakarya Pembangunan Pertanian Tingkat Nasional ini dalam logat Makassar.

Selain bergerak terus mendekati masyarakat, Nawir pun mengandalkan kekuatan simpul-simpul keluarga besarnya untuk merebut suara. Diakuinya, ia memiliki sejumlah kerabat dekat berpengaruh yang tersebar di berbagai daerah di Sulsel. “Saya tidak mau takabur, namun saya targetkan menang,” tegasnya.

Nawir meyakinkan keluarga dan masyarakat meski banyak kalangan yang menganggap dirinya adalah masa lalu Pinrang dan malah dinilai sebagai pendatang baru, ia tetap optimis. Master Pertanian lulusan Universitas Hasanuddin, Makassar ini yakin langkah yang diambilnya mendampingi Andi Rudiyanto Asapa bukan isapan jempol belaka. “Rudi adalah seorang pejuang yang pantang mundur. Punya hitungan matang sebelum bertanding. Orangnya konsisten, serta punya prinsip yang kuat,” ujar Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Pinrang ini.

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, edisi Desember 2012

Sumber foto: sayapgarudana

Posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata, Pilgub Sulsel, Profil, Rekam Media | Tagged , , , , , | Leave a comment

Ini Dia yang Membuat Kekayaan Andi Rudiyanto Kian Menipis

Perang darat jelang Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan terus berlangsung hingga Sabtu (19/1) kemarin. Mulai dari warung kopi pinggir jalan, panggung kampanye, pertemuan akbar, hingga lobi hotel seakan warga Sulsel tak mau ketinggalan memperbincangkan rangkaian pemilukada Sulsel yang bakal digelar Selasa 22 Januari nanti.

Di bawah ini artikel seputar visi misi dan perjuangan kandidat pasangan Andi Rudiyanto Asapa – Andi Nawir Pasinringi (Garudana) yang diturunkan oleh portal berita kabar-toraja.com beberapa waktu lalu. Selamat membaca.

Pemilukada Sulsel sedang berlangsung. Adu program ketiga kandidat juga dikibarkan. Terkait perubahan yang ingin dilakukan oleh calon Gubernur dan Wakil Gubernur, nomor urut 3 Andi Rudiyanto Asapa-Andi Nawir Pasinringi, dalam program-programnya ke depan, berikut di bawah ini wawancara singkat portal kabar-toraja.com dengan Andi Rudiyanto Asapa, belum lama ini, Senin (14/1), di Loby Toraja Luta Resort, Rantepao, Toraja Utara usai kampanye akbar di lapangan Bakti Rantepao.

Selamat siang pak, apa kabar hari ini?

Selamat siang, kabar baik, semoga kabar anda juga baik.

Di kampanye akbar barusan massa pendukung bapak terlihat cukup banyak. Ini pertanda apa?

Dalam setiap kampanye kami massa yang datang selalu banyak. Ini berarti masyarakat inginkan ada perubahan melalui program konkrit yang kami tawarkan. Selain itu. Apa yang selama ini kami kemukakan tak pernah terbantahkan oleh kedua kandidat lainnya. Keduanya tak akan berani membantah karena kami memang nyata.

Ada yang menilai tiga kandidat dalam pemilu ini tak ada yang membawa program baru. Bagaimana tanggapan Anda?

Tak lantas menyalahkan penilaian itu. Mereka hanya melihat kulit. Tak melihat implementasi. Untuk pembandingnya begini. Kedua kandidat sama mengatakan akan berantas korupsi, tapi implementasinya apa. Ujudnya seperti bagaimana.

Dalam program Garuda-Na disetiap pertemuan selalu kami wacanakan. Sesuai Inpres nomor 5 tahun 2004, jelas mewajibkan dalam setiap proses perencanaan anggaran oleh SKPD sampai gubernur dibahas di DPRD, kemudian dilanjutkan sampai pada pelaksanaan anggaran, menyusul pelaksanaan program masa akhir tahun harus melibatkan kepolisian, kejaksaan dan LSM yang dianggap kredibel. Itu implementasi yang harus dilakukan. Namun kondisinya kini. Di semua tingkat dimulai dari Propinsi Inpres yang jelas-jelas sebagai peraturan, apakah telah dilakukan merata.

Bila bicara anti korupsi tapi tidak dimulai pada tindakan pencegahan sama saja bohong. Lebih afektif tindakan pencegahan dari pada anti korupsi. Tindak korupsi terleih dahulu harus dilawan dengan cara pencegahannya. Saya ini orang pemerintahan banyak perencanaan dari SKPD tidak menguntungkan rakyat.

Ada yang menilai Bapak terlihat tenang di debat kandidat tanggal 10 Januari lalu. Mengapa?

Debat sebagai adu argumen sekaligus bukti melalu ucapan yang disaksikan rakyat banyak. Sepertinya harus ditingkatkan lagi kualitasnya. Makanya debat kandidat kembali harus dilakukan.

Namun kedua tim pemenangan kandidat tak mau. Hal itu terungkap saat pertemuan para tim pemenangan ketiga kandidat di Polda, Minggu (13/1) lalu. Tim pemenangan Syahrul dan Ilham tak bisa menjamin memenangkan massanya pada debat kandidat kedua nanti. Hingga Kapolda memutuskan debat kandidat tetap akan dilakukan namun harus menerima dua opsi. Pertama dipindah ke Jakarta, atau sama sekali tidak dilakukan. Opsi pertama akhirnya menjadi kesimpulan kalau debatnya di Jakarta lebih baik debat kandidat batal dilaksanakan.

Bagi kami ini sangat merugikan. Khususnya akan berdampak pada pendidikan politik bagi rakyat. Biarkan saja kami berdebat. “ribut” dengan para kandiadat lain dalam arti adu argumentasi sah-sah saja dalam demokrasi. Tak akan mungkin para kandidat saling gebuk.

Intinya saya meminta bagaimana kedua pasangan amankan massa kalian. Ilham dan Syahrul harus menjamin. namun jika massanya saja tidak dijamin untuk dikendalikan, ini logikanya sama saja bagaimana kendalikan masyarakat nanti. Sulsel ini terdiri dari berbagai macam etnis. Jika ada keributan didaerah lain Gubernur harus bertindak tegas. Kalau massa sendiri tak bisa dijamin bagaimana bisa mampu kendalikan massa diwilayah Sulsel.

Hitungan anda Pemilihan ini satu atau dua putaran?

Hitungan saya satu putaran.

Jika Dikehendaki Allah. Anda terpilih menjadi Gubernur. Apa kali pertama yang akan dikerjakan?

Langkah pertama kali yang akan dilakukan. Saya akan kumpulkan seluruh SKPD. Akan saya informasikan bahwa penyusunan program kerja libatkan kepolisian, kejaksanaan dan LSM yang kredibel. Ini dilakukan agar SKPD tidak kaget karena situasinya berbeda dengan terdahulu.

Kedua, sudah ditarget dalam satu tahun kepemimpinan GARUDA-NA pendidikan, dan kesehatan gratis sudah harus berjalan baik. Tak ada pilihan lain. Ketiga, pemberdayaan SKPD khususnya mencari SDM yang mampu. Sebab selama ini yang memegang kepemimpinan di SKPD mungkin diangkat karena ada sesuatu, entah itu mengimingi atau diimingi atau semacamnya. Banyak SDM yang kapabilitas namun tenaganya tak dipakai. Sungguh sangat disayangkan.

Kalau seandainya anda kalah apa yang akan dilakukan?

Saya kembali menjadi jadi lawyer. Tak jadi masalah. Dalam waktu enam bulan saya kembali berada pada posisi semula. Sesuaikan diri seperti sedia kala layaknya sebagai pengacara.

Daftar kekayaan anda kian tipis kemana saja uangnya. Apa yang dibelanjakan?

Begini, jika saya datang disatu tempat dan sudah berjanji akan lakukan perubahan. Kalau ditempat itu jalanannya rusak. Sementara anggaran dari pemerintah belum ada. Uang pribadi saya gelontorkan. Saya tidak menagih penggantian dari pemkab. Ini bukan hal yang aneh sebenarnya

Ada hal lain yang perlu disampaikan?

Saya berharap untuk masyarakat Toraja, Enrekang, dan Luwu mari bersatu untuk perubahan bagi semua. Karena perubahan ini penting bagi kehidupan kedepan. Anak cucu kita semua. Untuk merubah sistem pemerintahan Sulsel yang lebih baik.

Sumber : kabar toraja

Sumber Foto : sayapgarudana

Posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata, Pandangan, Rekam Media | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Subhanallah… Negeri Sentosa, Tak Tersorot Kamera

https://i0.wp.com/stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2013/01/13570610101148230494.jpg

Salah satu sudut keindahan Kabupaten Sinjai. (Foto: dok. Kompasiana/Sipiliang)

Sekilas ketika membaca judulnya sempat bertanya-tanya, di manakah negeri yang dimaksud itu? Penasaran akhirnya mengajak jari ini untuk mengklik link tersebut. Subhanallah… rasanya tak jemu-jemu memandangi foto-foto cantik, memesona mata ditambah pemaparan yang begitu detil. Ternyata itulah gambaran kota kabupaten Sinjai yang ada di wilayah Sulawesi Selatan. Sebuah kota kecil –yang pernah penulis singgahi untuk beberapa waktu– yang penuh harmoni. Rupanya tulisan bertajuk Negeri Sentosa, Tak Tersorot Kamera yang ditulis dan dipublis di Kompasiana oleh pemilik akun bernama Sipiliang di bawah ini begitu menakjubkan. Penasaran? selamat menikmati.

Indonesia ternyata tidak kekurangan pemimpin berkualitas. Saat mata banyak tertuju ke Jokowi di Jakarta dengan gebrakannya, di daerah-daerah kita sebenarnya punya banyak inspirasi lain. Salah satunya dari Sinjai, sebuah kabupaten kecil di Sulawesi Selatan. Kepemimpinan yang kuat mampu membuat daerah ini berkembang. Jokowi dijamin minder atas apa yang diperbuat bupatinya. Cerita perjalanan ini akan menjelaskan sedikit tentang wilayah tersebut.

Sebelum masuk Sinjai, saya ditantang taruhan oleh Mail, supir rental yang menemani saya dari Makassar. “Abang boleh cari jalan jelek di Sinjai, bahkan di kampung-kampung sekali pun. Atau coba cari pengendara motor yang keluar rumah tanpa helm, walau cuma ke warung terdekat. Kalau Abang ketemu, boleh potong honor saya setengah” tantangnya.

Awalnya saya anggap itu angin lalu saja, namun Mail semangat sekali berpromosi. Di sepanjang perjalanan dia bercerita perkembangan Sinjai di bawah kepemimpinan Rudiyanto Asapa, Bupati dua periode yang saat ini juga maju sebagai calon gubernur Sulawesi Selatan.

Masuk Sinjai menjelang maghrib, saya menginap di Hotel Sahid Sinjai, sebelah kediaman resmi Bupati.  Target pertama saya adalah menikmati satu-satunya kehidupan malam di Sinjai. Kehidupan malam yang sangat sehat. Sebuah perputaran ekonomi yang mensejahterakan nelayan maupun warga secara keseluruhan, yaitu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sinjai.

13570611811150915402Pusat pelelangan ikan Sinjai mulai ramai sekitar pukul 19.30. Ratusan kapal penangkap ikan parkir dan berbaris rapi di pinggir pelelangan. Parkir dengan retribusi resmi yang menguntungkan daerah.  Nelayannya bukan hanya dari Sinjai, nelayan dari Bantaeng, Bulukumba, bahkan dari Makassar lebih suka parkir dan menurunkan ikan di pusat pelelangan ikan ini. Sebab manajemennya transparan dan rapi. Taka ada tengkulak yang memonopoli harga.

Ikan diturunkan dan langsung disambut oleh para pedagang. Masyarakat lalu-lalang bertransaksi  baik membeli ikan partai besar maupun eceran untuk kebutuhan  sehari-hari. Ini pasar yang hampir sempurna, tidak ada cukong atau tengkulak yang bisa mengintervensi harga ikan. Nelayan, penjual, dan pembeli sama-sama diuntungkan. Jika ikan tidak habis, dinaikkan lagi ke peti pendingin yang ada di kapal untuk dijual lagi pada malam berikutnya.

Dengan uang lima puluh ribu, anda bukan hanya dapat 3-4 ekor ikan, tapi seperti meraup tauge. Bagi yang ingin segera menikmati ikan segar, di pintu masuk pelelangan terdapat banyak warung yang menyediakan pembakaran ikan. Inilah satu-satunya kehidupan malam di Sinjai.

Pulang dari pelelangan saya mampir di sebuah toko serba ada untuk membeli perlengkapan mandi dan sikat gigi. Jangan harap anda akan menemukan waralaba semacam Alfamart atau Indomaret di tempat ini. Bupati Sinjai, hanya mengijinkan waralaba masuk ke daerahnya jika bersedia menampung produk industry rumahan warga dengan kuota tertentu. Satu hal yang sepertinya berat dipenuhi oleh perusahaan waralaba. Namun bagi sang kepala daerah, itu bentuk perlindungan terhadap sektor ekonomi kerakyatan agar tidak digilas pasar-pasar modern.

Keesokan pagi saya bersiap-siap berkeliling ke pelosok Sinjai. melihat langsung hasil kepemimpinan Rudiyanto Asapa yang disanjung-sanjung warga Sinjai tersebut.

Saya mulai dengan menikmati pemukiman di pusat kota. Jalan-jalan yang mulus, rapi, serta pohon rindang terbentang di sepanjang jalan. Lalu saya lanjutkan perjalanan ke Sinjai Utara. Lagi-lagi Mail mengingatkan saya soal tantangannya.

“Nanti coba cari jalan jelek ya bang,” tantangnya sembari senyum-senyum.

Saya tidak tertarik mencari jalan jelek tetapi sibuk memperhatikan motor-motor yang berseliweran. Penampilan motor-motor dan pengendaranya rata-rata sama, konservatif.  Hampir tidak ada modifikasi. Motor harus dengan dua spion pabrikan, tanpa knalpot yang bikin berisik, serta pengedara yang lengkap dengan helm standar SNI. Konon tak ada kawasan khusus tertib lalu lintas di sini. Seluruh jalan adalah kawasan tertib lalu lintas. Sebab, polisi bisa melakukan tilang di jalan-jalan kampung sekalipun. Nama Kasatlantas Sinjai, H. Eddy, adalah nama terpopuler kedua setelah sang Bupati.

Saya berhenti di Bukit Gojeng. Ini awalnya adalah tempat makam purbakala. Namun fosil-fosilnya sudah dipindahkan ke dalam museum. Lokasi situs purbakala ini sendiri diubah menjadi taman kota yang sangat asri dan indah. Sekelas dengan resort-resort super mahal di pulau jawa. Ini merupakan ruang publik tempat muda-mudi menghabiskan waktu, terutama di akhir pekan. Dan yang bikin saya kaget, petugas penjaga taman ini memberitahu saya, password free wifi yang bisa dinikmati di Bukit Gojeng. Masukkan saja password digojengku, anda bisa berselancar di internet sambil menikmati nuansa resort berkelas yang sangat asri.

Dari Bukit gojeng, saya menuju dataran rendah. Ada deretan pulau-pulau yang menarik perhatian saya ketika  melayangkan pandangan dari puncak bukit gojeng. Menurut warga setempat, namanya Pulau Sembilan. Ada sembilan pulau yang terpisah dari daratan utama Kabupaten Sinjai.

Saya menuju pelabuhan untuk mendapatkan speed ke Pulau Sembilan. Tidak ada tujuan khusus, hanya ingin tahu kondisi pulau-pulau yang terpisah dari daratan utama. Saya menuju pulau yang paling ramai, dan juga merupakan Pusat kecamatan Pulau Sembilan, namaya Pulau Kambuno.

Pulau ini dihuni oleh para nelayan. Tapi jangan bayangkan sebuah kampung nelayan yang berantakan dan kumuh. Ini jauh di luar perkiraan. Yang terlihat justru sebuah pemukiman yang sangat rapi dan bersih. Rumah-rumah panggung berjejer rapi dan gang-gang yang bersih. Hampir tidak ada rumah yang jelek, begitu juga perahu-perahu mereka yang bersandar di pinggir pulau. Persis di tengah-tengah pulau terdapat sebuah ruang publik berupa lapangan yang multifungsi. Jika diptret dari udara, akan mirip seperti stadion di tengah pulau, dikelilingi oleh rumah-rumah panggung dan tebing. Ini contoh kearifan lokal yang tidak tunduk pada keserakahan.

13570615041663276668Dulu pulau ini gelap gulita. Tidak ada listrik. Namun setelah dipimpin oleh Rudiyanto Asapa, Kambuno sudah dialiri listrik. Mekipun masih terbatas pada malam hari, namun membuat kemajuan dalam banyak hal, terutama pendidikan. Anak-anak bisa melajar dengan baik. Kehidupan pulau juga lebih semarak, dan sebagian di antara mereka justru bisa berselancar di internet. Ternyata pulau ini juga tersedia fasilitas Free Wifi yang dipancarkan dari kantor kecamatan.

Saya telusuri semua sisi pulau. Wajah-wajah cerah penghuni pulau, terutama anak-anak menghiasi setiap langkah saya menyisir pulau. Seorang anak mengajak saya melihat bangunan SMP tempat dia bersekolah. Tempatnya ada di puncak tertinggi pulau kambuno. Katanya pemandangannya sangat indah dan tak akan bisa dilupakan. Ah, saya pikir itu hanya hiperbola saja.

Saya susuri jalan  setapak menanjak yang sudah dibeton. Di kiri kanan terdapat hamparan hutan kaktus seperti di gurun pasir. Sungguh nuansa yang sangat berbeda ketika sadar bahwa ini masih di pulau tropis. Di tengah-tengah hutan kaktus, terdapat sebuah balai nikah, di puncak tebing dan menghadap ke laut. Sejenak saya layangkan pandangan. Mulut ternganga dan takjub. Hamparan laut bening dengan warna kehijauan membentang di hadapan mata. Bisa dibayangkan betapa romantisnya jika pernikahan digelar di balai nikah ini. Besarnya tidak seberapa, tapi pemandangannya akan membuat moment pernikahan sebagai kenangan yang sangat berkesan.

Tidak jauh dari Balai Nikah itu, berdiri megah sebuah SMP negeri. Klaim anak kecil tadi ternyata bukan hiperbola. Pemandangan dari ruang guru maupun ruang belajar SMP ini setara dengan resort-resort mewah di Bali. Pantai pasir yang sempit, pohon kelapa yang tidak terlalu banyak, dan hamparan laut bening berwarna kehijauan. Saya tidak tahu apakah pemandangan ini akan membuat semangat belajar bertambah atau malah membuat ngantuk.

Namun, memang harus diakui bahwa 100 persen anak-anak di sinjai sudah menempuh pendidikan dari SD sampai SMA, dan itu gratis, baik di sekolah negeri mapun swasta. Bupati Sinjai Rudiyanto Asapa sudah menerapkan kebijakan ini sejak tahun 2003. Kalau mau jujur, mungkin dia pelopor pendidikan gratis di Indonesia. Seorang Bupati yang pernah dilaporkan warganya ke polisi sebagai penculik anak, karena membawa anak-anak yang bekerja di sawah ke sekolah meski mereka tak punya seragam.  Hanya sayang, tidak ada kamera wartawan Jakarta yang mampir di sini.

Menjelang sore saya kembali ke daratan Sinjai. Bersiap-siap kembali ke Makassar. Rasa tidak puas memenuhi dada. Sebab, selalu ada kejutan di setiap pelosok Sinjai. Dan itu inspirasi untuk membuat Indonesia lebih baik. Tapi sayang, pekerjaan terlalu banyak menumpuk di Makassar dan Jakarta. Suatu saat, saya pasti kembali menyusuri sisi lain daerah ini.

Sinjai memang bukan daerah ternama. Bahkan jarang ditulis media. Namun bagi yang hadir dan menikmati langsung akan segera paham bahwa ini seperti sebuah negeri yang diperintah raja bijak. Kebijaksanaan yang melahirkan ketenangan dan kesejahteraan bagi warganya.

Sumber naskah dan foto : Kompasiana.Sipiliang

Posted in Kisah Nyata, Pandangan, Rekam Media | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Rudi: Maaf Pak Gub, Pembangunan Tak Merata

Di bawah ini wawancara redaksi Harian Tribun Timur bersama calon Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Rudiyanto Asapa berkaitan dengan ajang pilgub Sulsel yang akan digelar 22 Januari mendatang. Sengaja kami tidak menulis ulang seluruh isi dari wawancara yang memang sudah diterbitkan harian local yang terbit di kota Makassar itu.

Untuk lebih jelasnya, silahkan baca dan simak apa yang dipaparkan oleh Andi Rudiyanto Asapa. Semoga bermanfaat dan membuka mata dan hati serta pikiran bagi para calon pemilih dalam ajang pemilukada gubernur Sulawesi Selatan 2013.

 Rudi: Maaf Pak Gub, Pembangunan Tak Merata

3garudana10Calon Gubernur Andi Rudiyanto Asapa menerima kehadiran wartawan Tribun Timur, Muhammad Yasdin dan Ridwan Putra usai jumpa pers di Media Centre Garuda-Na, Jl Adhyaksa Baru, Makassar, Kamis (3/1).

Fotografer Tribun, Sanovra Junior, mengabdikan momen wawancara khusus ini. Tribun menyajikan delapan pertanyaan kepada Rudiyanto. Pertanyaan yang sama juga diajukan kepada dua cagub lainnya. Berikut petikannya:

Niat utama maju di pilgub?

Yang pertama bahwa apa yang saya lihat selama tahun, mohon maaf pada Pak Gubernur yang ada sekarang, sebagai Bupati Sinjai bahwa ada ketidakadilan dalam proses pembangunan di Sulsel. Nah, ketidakadilan inilah yang menyebabkan ada kesenjangan antara satu daerah dengan daerah yang lain.

Ini tidak bisa kita biarkan, kalau kita biarkan kita akan selalu tertinggal.  Ini yang menjadi alasan pertama saya karena ketidakadilan itu terkait dengan pemenuhan hak-hak dasar rakyat. Apa hak dasar rakyat itu, seperti misalnya infrastruktur jalannya, jalan provinsi yang tidak karuan.

Saya mohon maaf kepada Pak Gubernur, mungkin beliau sudah berusaha tapi batas kemampuannya seperti itu. Kemudian yang kedua infrastruktur irigasi bagi pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, juga sama dan yang ketiga adalah pendidikan yang selama ini dianggap berhasil tapi menurut saya tidak berhasil juga kesehatan yang dianggap seperti itu.

Seperti janjinya kepada masyarakat tidak mampu dipenuhi. Sehingga ini yang membuat saya merasa tergelitik untuk maju. Ternyata saya juga mendapat perintah dari Ketua Dewan Pembina bahwa saya harus maju pada pilgub Sulsel. Tidak ada pilihan lain kecuali mengabdikan diri untuk Sulsel.

Alasan memilih Andi Nawir Pasinringi sebagai pasangan Anda?

Saya harus terus terang, empat kali saya minta Pak Nawir berpasangan dengan saya. Tiga kali beliau menolak. Alasan yang pertama bahwa, beliau sudah tua, sudah capek, 33 tahun dipemerintahan sudah bosan.

Saya minta kepada beliau berpikir, saya beri beliau waktu. Alasan kedua juga alasan yang sama, alasan ketiga juga beliau datang masih tetap sama dan pada akhirnya, yang keempat dia sudah mengelelingi Sulsel, dia sudah melihat bahwa memang harus ada hal yang harus diperbaiki dan di sisa-sisa-sisa hidupnya, beliau ingin mengabdikan dirinya untuk Sulsel.

Yang keempat baru dianyatakan oke, ndi’, dia panggil adik sama saya, saya bersedia dampingi dan setelah itu saya bawa menghadap ke Pak Prabowo.  Pada saat menghadap ke Pak Prabowo, beliau kan menerima tamu hanya 10 menit saya sudah sampaikan ke Pak Nawir. Daeng, minta maafka karena biasanya kalau ketemu Pak Prabowo, saya antar orang, saya antar tamu, hanya 10 menit.

Ternyata ada sisi lain yang dilihat Pak Prabowo terhadap Pak Andi Nawir bukan 10 menit, kita dijamu makan malam dari jam 8 sampai jam 11 malam. Banyak cerita Pak Prabowo terhadap Andi Nawir, termasuk titipan beliau. Pak Andi Nawir tolong dampingi Bupati Sinjai menjadi Wakil Gubernur dan jaga Pak Bupati.

Pengabdian terhadap rakyat yang paling utama dari semuanya dan ada titipan lain tentunya tapi saya tidak ingin sampaikan di tempat ini karena bisa membuat orang agak…Tahulah orang Sulsel.

andi nawirSejak saat itu saya sepakat untuk pasangan dengan catatan, Pak Andi Nawir menawarkan kepada saya bahwa ndi’, kita pasangan tapi saya mau kita sumpah sama-sama. Apa itu sumpahnya daeng? Eh.. Tolong, kalau kita yang terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Sulsel, pada saat kita berkunjung ke daerah, kita jangan menginap di rumah jabatan bupati.

Oke, kalau memang itu prinsipnya, oke. Jadi kita nginap dimana? Kita nginap di rumah rakyat, saya sependapat. Maka sumpah itu saya pegang bersama-sama Pak Andi Nawir.

Cara mengatur waktu di tengah kesibukan?

Kalau dengan jabatan saya sebagai bupati, saya tidak ragukan lagi karena sistem yang saya bangun dua periode sebagai bupati, saya sudah meletakkan dasar-dasar dan sistem yang harus diterapkan di bawah dan saya sudah sampaikan bahwa persolan yang boleh sampai ke bupati adalah persoalan yang sangat krusial.

Jelas tugasnya aparat yang ada di bawah dan kalau dia tidak bisa melaksanakan tugasnya, lebih baik dia berhenti karena mereka kan digaji, itu yang saya lakukan.

Sistem ini berjalan, sehingga saya tidak meragukan meskipun saya tidak berada di Sinjai. Sehingga untuk mengatur waktu saya di Sinjai tidak terlalu merepotkan saya kecuali ada acara-acara penting seperti pembahasan APBD, upacara-uapacara kenegaraan, dan yang ketiga ada yang urgen dari masyarakat dan harus bertemu dengan saya maka saya akan kembali ke Sinjai.

Ke keluarga tentunya, selama saya jadi pengacara saya sering meninggalkan keluarga saya. Keluarga saya terbiasa dengan itu, bukan terlalu aneh bagi istri saya dan anak-anak saya. Saat saya jadi pengacara terkadang 24 jam saya harus berada di kantor dan luar daerah.
Dengan parpol saya membagi dengan wakil-wakil ketua, ada Ketua OKK yang mengurusi pengkaderan, ada Ketua Bappilu, ada Humas, ada Infokom. Saya percayakan tugasnya kepada mereka sehingga saya lebih gampang mengontrol. Tidak bisa dilaksanakan saya ambil alih.

Cara menjaga kesehatan di tengah padatnya jadwal sosialisasi?

Resep saya cuma satu, saya makannya jam 5 sore. Pagi saya tidak makan, saya cuma minum kopi, tentu air putih satu liter. Sudah 30 tahun saya laksanakan. Kopi, rokok, tidak makan cemilan, selesai. Mandi, kalau toh saya makan di acara saya makan saja sekadarnya tidak mengecewakan yang punya acara.

Meskipun sebenarnya itu tidak menjadi kewajiban yang mendesak untuk saya. Tapi saya makannya jam 5 sore, lebih baik saya makan setelah jam 5 sore daripada sebelum jam 5 sore.

Ini sudah saya lakukan 30 tahun dan tidak ada resep lain selain itu.  Bahwa ada vitamin, istri saya dokter, banyak vitamin yang disiapkan untuk saya tapi tidak ada yang cocok. Kalau saya minum vitamin, saya sakit kepala. Simple sekali, tidak ada merepotkan saya. Makannya saya juga cuma indomie dan telur dadar.

Kebiasaan yang berubah dan dirindukan selama ini?

Yang seperti dikeluhkan teman-teman yang tadi bahwa saya sangat tertutup, saya susah ditemui karena saya sudah diatur oleh tim kampanye saya. Sehingga ini menyusahkan bagi saya. Ada kebiasaan saya, saya ingin bebas juga, jalan keman-mana, tetapi yang bikin repot juga protap yang melekat di saya.

Di mana-mana saya jalan kepolisian ikut juga, bikin sakit kepala juga tapi saya hargai itu karena itu adalah protap dari kepolisian.

Pernah konfirmasi ke rival Anda mengenai kampanye negatif terhadap Garuda-Na?

Alhamdulillah sampai saat ini saya tidak pernah difinah, tidak pernah kena black campaign.  Saya berharap, hingga selesainya pilgub ini saya tidak difitnah dan tidak di-black campaign. Orang memang kesulitan, mau fitnah saya, mau black campaign saya dari mana, dari posisi mana saya bisa difitnah, dari mana saya black campaign.

Saya juga tidak pernah melakukan komplain karena saya tidak pernah difitnah, tidak pernah di black campaign, kecuali kalau terkait pemberitaan, itu saja. Ha…ha…ha…

Selain keluarga, orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?

Yang pertama tentu Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto. Beliau intens sekali mendorong saya melakukan sosialisasi dengan catatan, jangan kumpulkan rakyat di tengah terik matahari, kemudian kalian di bawah tenda. Rakyat kepanasan kemudian anda pakai tenda, rakyat kelaparan kemudian anda pakai tenda jangan lakukan. Kalau mau sosialisasi, sosialisasilah dari rumah ke rumah.

Selain istri saya, anak saya dua-duanya juga mensupport saya. Segenap pengurus DPP Partai Gerindra selalu mendorong saya.

Apa yang akan dilakukan jika kalah di Pilgub Sulsel 2013?

Kalau saya kalah saya kembali ke profesi saya sebagai pengacara. Saya kan cuma cuti sebagai pengacara, lawyer. Saya mengabdikan diri untuk masyarakat Sinjai sejak 2003. Profesi inilah yang membentuk karakter Rudiyanto. Saya dikenal karena profesi ini. Tidak mungkin saya tinggalkan.

Masa jabatan saya sebagai bupati juga masih sampai bulan Juli. Anda juga akan mendapati saya menjadi nara sumber mengkrititisi segala kebijakan. Saya akan lakukan itu, itu adalah karakter saya. (*)

Penulis : Yasdin

Editor : Mansur AM

Sumber: Tribun Timur

Posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata, Pandangan, Pilgub Sulsel, Profil, Rekam Media | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Andi Rudiyanto Asapa, Bupati yang Menolak Kebijakan Gubernur

Karakternya yang tegas dan berani, bukanlah isapan jempol belaka. Ketegasan dank keberanian Andi Rudiyanto Asapa, Bupati Sinjai itu kerap membuat semua kalangan geleng kepala. Pasalnya, orang nomor satu di Republik ini saja pernah diinterupsinya. Pun dengan Gubernur Sulawesi Selatan yang tak lain atasan langsungnya. Bahkan mantan Ketua LBH Makassar ini dengan berani menolak kebijakan gubernurnya. Apa sebab Rudi, berani menolak kebijakan itu? Berikut kisahnya.

3garudana2Saat pemilihan Gubernur tahun 2008 di Sulawesi Selatan, salah satu janji kampanye Gubernur terpilih saat itu adalah layanan kesehatan dan pendidikan gratis. Namun program yang dijalankan Gubernur adalah dengan membagi beban biaya tanggungan kesehatan untuk masyarakat, 60 persen menjadi tanggungan pemerintah kabupaten/kota dan 40 persen ditanggung provinsi. Andi Rudiyanto Asapa, selaku Bupati Sinjai menolak menandatangani kesepakatan itu dengan Gubernur. Apalagi janji Gubernur tersebut telah dilaksanakan oleh Rudi sejak tahun 2003. Ketika daerah lain baru mewacanakan, Rudi sudah menjalankan.

“Program pendidikan dan kesehatan gratis dari provinsi terpaksa kami tolak. Karena masih membebankan kabupaten. Siapa yang berjanji, dia yang harus menepati,” tegas Rudi.

Bagi Rudi, sistem yang ditawarkan Gubernur, justru akan membuat sistem yang sudah berjalan secara mandiri di Sinjai, harus diubah lagi. Hal itu dianggap Rudi akan menyulitkan. Selain itu, menurut Rudi hal yang dilakukan Gubernur tidak sesuai dengan yang diucapkan. Karena yang menjanjikan tidak melakasanakan janjinya, dan justru hanyamenanggung 40 persen, sisanya menjadi beban daerah kabupaten/kota. Selain itu, jika biaya layanan kesehatan bisa ditanggung sepenuhnya provinsi, maka pemerintah daerah bisa melakukan pengembangan infrastruktur dan sarana kesehatan menjadi lebih baik. Karena itu, ketika kesepakatan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dilakukan.

Warga masyarakat Sinjai memang tak perlu pusing memikirkan biaya pengobatan ketika sakit, karena telah ditanggung Pemda melalui program Jamkesda. Masyarakat yang tak mampu, tak perlu membayar sepeser pun karena retribusi juga telah dihapuskan. Semua layanan kesehatan, dari layanan dasar di Puskesmas, rawat jalan, rawat inap hingga operasi di RSUD Sinjai, semua gratis. Tidak ada batasan jenis layanan, selama itu bisa dilakukan di RSUD Sinjai semua ditanggung. Satu lagi perbedaan kesehatan gratis ala Rudiyanto adalah, pasien dirawat inap di ruang kelas 2, bukan di kelas 3 seperti layanan kesehatan gratis lainnya.

Bahkan, jika tak mampu dilayani di RSUD Sinjai dan harus dirujuk ke RSUP di Makassar, transportasi ke Makassar pun ditanggung. Untuk masyarakat Sinjai yang tak mampu dan harus berobat ke RSUP, Bupati Sinjai juga kerap harus mengeluarkan surat jaminan. “Setelah kami menolak uang dari Provinsi untuk kesehatan gratis dan mengembalikan uangnya, kami membuat kesepakatan dengan Gubernur agar masyarakat Sinjai yang berobat ke Provinsi juga digratiskan. Namun sampai sekarang hal itu tidak dijalankan, sehingga setiap hari saya harus tanda tangani jaminan pengobatan untuk masyarakat Sinjai yang berobat ke Makassar,” tutur Rudi.

Layanan kesehatan gratis di Sinjai juga bisa dinikmati warga kabupaten lain, misalnya di wilayah yang tak jauh dari perbatasan. Banyak warga kabupaten tetangga yang berobat di Sinjai, dan diperlakukan sama, tidak dikenakan biaya. “Kami layani sama, karena tidak mungkin orang sakit tidak kami layani,” ungkap Amrullah kepala Puskesmas Manipi, Sinjai Barat, yang berbatasan langsung dengan Malino, Kabupaten Gowa.

tulisan ini pernah diunggah di akun Facebook atasnama Peace Brown

Posted in Jejak Langkah, Kisah Nyata, Rekam Media | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment